KESAKSIAN KARYA ROH UMAT SMTB

Pada awalnya saya tercengang melihat jalan di seputar Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB) yang sudah terbuka lancar setelah kemaren pagi dihentak peristiwa traumatis ledakan bom.thumbnail

Setelah berbincang sejenak dg romo-romo dan kawan-kawan relawan lain saya memanfaatkan kesempatan untuk ikut misa. Mengagetkan juga karena Paroki SMTB sudah dengan tenang menyelenggarakan misa dari tadi pagi; meski harus bernegosiasi dg pihak keamanan, tutur seorang petugas. Lebih membuat terperangah lagi umat yang hadir misa sangat banyak, lebih dari 150 orang perkiraan saya.

Kenyataan ini turut menginspirasi saya dalam menghadapi ketegangan banyak pihak yang masih tarik ulur antara menunjukkan keberanian menghadapi terorisme dan kewajiban menjaga keamanan umatnya, mencari titik temu antara berkegiatan dan menahan diri demi keamanan

Tak jarang hati kita begitu dikuasai ketegangan akibat berita televisi, sementara mereka yang mengalami justru tragedi sudah menjalani proses rekonsiliasi.

Makin nyata bahwa Roh bekerja bukan hanya dengan hal hal spektakuler laksana mujizat yang menghebohkan, tetapi dalam keberanian untu menjalani keseharian normal dalam keraguan bahkan ketakutan sekalipun. Ya, umat SMTB seolah menjalani dengan normal liturginya, lengkap dengan kor novena, dan pakaian liturgi seperti biasa. Padahal, pasti masih menyisakan kegelisahan, kegeraman, duka, waspada dan aneka rasa lain.

Pengantar misa yang disampaikan Romo Widyawan sangatlah
mencerahkan, meneguhkan dan memanggil semangat pengampunan kristiani. Ia mengajak kita mendoakan korban, dan pada saat yang sama mendoakan pelaku yang telah megorbankan raga dan jiwanya. “Seperti apapun yg kita alami, kita tetap bersyukur memiliki kristus sang terang, yang mengarahkan kita pada terang kehidupan”, imbuhnya.

Romo Andi sebagai homilis menukikkan pengertian bahwa yang kita hidupi mestinya kultur kehidupan. Menjadi martir berarti menhargai kehidupan setinggi-tingginya.

Begitu keluar, umat bergerombol menyaksikan tukang yang sedangengecat ulang bagian depan gereja yang telah dipenuhi bercak sehari sebelumnya.

Ketika romo mengajak umat meninggalkan tempat itu umat senyum senyum, rupanya karena sadar selama ini gak pernah begitu memperhatikan tukang seperti ini. Tapi keberanian mereka berdiri berlama-lama di situ seperti membahasakan pengharapan baru bawa mereka telah perlahan dipulihkan.

Umat SMTB, trimakasih sudah memberi kesaksian dan teladan bagaimana hidup dalam roh dan kebenaran yang memerdekakan.

Advertisements

Mengelola Tantangan-tantangan Pastoral Perkotaan

sbyPastoral di wilayah perkotaan tak terlalu menuntut alasan teologis yang berbeda dengan di wilayah lain. Akan tetapi berpastoral di perkotaan memerlukan kebijakan yang tak bisa disamaratakan begitu saja dengan berpastoral di wilayah pedesaan. Perbedaan ini menyangkut kondisi riil umat yang melahirkan respon-respon khas dalam kehidupan umat.

Menggarap tema ini saya diuntungkan bahwa saya pernah dan masih tinggal di kota Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia yang memiliki banyak karakteristik spesifik.

Untuk mempertajam bahasan ini pertama-tama bayangkan anda berdiri di puncak tertinggi kota tempat anda melayani. Kemudian bayangkan:

  • Quid Nunc Christus, jika Kristus saat ini berdiri di posisi anda dan melihat ke sekeliling, seperti apa perasaan-Nya, apa yang ada di pikiran-Nya, apa yang akan dilakukan-Nya?
  • Jika Kristus melihat kontras bangunan kondominium mewah dan gubug miskin pada sisi yang berdekatan, kontras antara pabrik-pabrik dengan cerobong asap raksasa dan upaya-upaya pehijauan kembali kota, bila melihat lalu lalangnya aneka jenis manusia perkotaan, apa yang Ia rasakan, pikirkan dan rencanakan?

Dari permenungan itu saya menemukan tantangan-tantangan ini:

  1. Memulihkan Relasi Dengan Komunikasi Primer

Satu hal yang dominan di kota besar termasuk di Surabaya adalah ancaman serius kekeringan relasi primer. Canggihnya alat dan lancarnya signal membuat banyak orang mengganti perjumpaan silaturahmi yang penuh makna dengan pesan-pesan tertulis yang cenderung pendek-pendek dan instan. Responnyapun menunjukkan kepuasan yang instan. Percakapan cepat lewat media sosial terkadang sudah membuat orang merasa sampai pada puncak relasi.  Bahkan respon “like” saja sudah ditafsirkan sebagai tanda solidaritas mendalam atas peristiwa sosial yang tragis. Padahal yang bersangkutan belum menandai solidaritasnya dengan aksi nyata.

Kalau tidak dimbangi dengan upaya-upaya nyata, hidup menggerejapun akan cenderung menjadi semu, hiper-realitas. Komunikasi didominasi apresiasi-apresiasi dangkal tanpa tindakan nyata. Tantangan kebekuan komunikasi di paroki perkotaan harus dikalahkan. Perjumpaan silaturahmi langsung diharapkan menjadi obat atas aneka kekeringan yang ditimbulkan oleh perjumpaan maya yang menyala cepat tetapi tidak mengakar dalam.

Banyak paroki perkotaan memiliki segudang penggerak muda kreatif. Di antara mereka telah mencoba mengembangkan komunikasi langsung lewat kunjungan, menelpon umatnya pada moment ulang tahun umat. Ada pula yang menggerakkan acara saling kunjung pada masa Paskah, Natal. Ada yang menjadikan moment tersebut sebagai pemberkatan rumah, di mana romo akan berkeliling diiringi umat lain untuk melakukan pemberkatan singkat atas rumah2 keluarga anggota lingkungan. Ada yang menjadikan moment ulang tahun paroki sebagai  sebagai bulan kunjungan keluarga, dan sebagainya.

Pesan Paus Fransiskus berikut memang tidak dimaksudkan untuk mengevaluasi peran media komunikasi, akan tetapi ajakannya  sungguh menggugah untuk tetap bersemangat misi dengan sukacita dalam segala keadaan “Tantangan yang ada harus diatasi ! Mari kita melakukan hal yang nyata, tapi tanpa kehilangan sukacita kita, keberanian dan komitmen penuh harapan kita. Janganlah kita membiarkan semangat misionaris kita dirampok!” (Paus Fransiscus, Evangelii Gaudium).

  1. Menahan Irama Yang Serba Cepat

Berbeda dengan masyarakat pedesaan yang mampu menunggu panen untuk bisa makan enak, orang kota cenderung tak bersentuhan dengan proses panjang. Pola ini membuahkan kecenderungan orientasi hasil dan ingin menghasilkan dengan cepat.  Kata “sabar” menjadi nasihat yang kurang terlalu laku. Lebih cepat menghasilkan lebih baik, lebih instan lebih baik lagi. Memburu hasil cepat seperti ini sering mewarnai pola-pola karya pastoral dan kehidupan iman. Alhasil, perasaan sia-sia sering menghantui penggerak umat yang memburu hasil segera.

Para pewarta Injil tantang untuk mau mendengarkan umat yang dilayani, dan tidak buru-buru memaksakan jalan pastoralnya. Pada saat yang sama mereka memiliki tanggungjawab untuk mendampingi umat dalam memahami bahwa buah iman tak selalu datang cepat. Paus Fransiskus memiliki bahasa indah untuk mengungkapkan hal ini: Para pewarta Injil memiliki “bau domba” dan dombapun mau mendengarkan suara mereka. Maka, komunitas yang mewartakan Injil siap “menemani”. Menemani seluruh prosesnya, betapapun sulit dan lamanya. (EG)

  1. Mengelola Tantangan Perkawinan dan Hidup Berkeluarga

Hampir semua orang kota mampu melihat betapa pentingnya perkawinan dan hidup berkeluarga, namun tak jarang atmosfer profan kota membuat perkawinan perkotaan sering dihadapkan pada tantangan yang unik pula. Tantangan-tantangan ini sering membuat tenaga pastoral harus memutar otak untuk menyiapkan perkawinan yang bermakna, atau bahkan sibuk mencari solusi atas masalah-masalah hidup berkeluarga.

Upacara perkawinan kadang menjadi potret dari pembentukan keluarga yang diidam-idamkan. Ada pasangan perkawinan yang memulai hidupnya dengan glamor fisik. Upacaranya meminta gaya barat, pestanya dengan gerak-gerik yang diadopsi dari benua lain, tetapi prosesnya nampak miskin pemaknaan, tanpa refleksi. Ada pula pasangan yang menyadari betapa pentingnya penghayatan batiniah,  proses-proses reflektif sarat dengan nuansa kekudusan.

Bagaimana dengan penhayatan perkawinan? Aneka tontonan profan yang tersedia tak jarang menggiring cara pandang yang mengeringkan pula. Salah satunya adalah memandang pasangan sebagai obyek fisik. Sementara  hidup perkawinan memiliki martabat luhur sakramental yang menghadirkan cinta timbal balik Allah dan Jemaat, cinta Kristus dan Gerejanya.

Kelompok pengembang Teologi Tubuh memperhatikan hal ini dengan sangat serius. Mereka telah membagikan wawasannya dalam melihat tubuh dalam konteks perkawinan, bukan sebagai obyek fisik pasangan, melainkan sebagai bahasa cinta kasih Allah, bahasa pengorbanan Kristus, bahasa kasih sayang yang mendalam antara umat sebagai tunuh Gereja dengan Kristus sebagai Sang Kepala.

Kota adalah medan yang kaya sarana, dan memanggil kita untuk terus menjadikannya kaya makna. Diperlukan tenaga pastoral yang mampu menyiram kekeringan makna, dan memberi inspirasi dan kesaksian akan kasih yang sempurna lewat hidup perkawinan atau hidup berkeluarga.

  1. Menyelaraskan Pertemanan Berbasis Persamaan Ke Komunitas Heterogin Berbasis Paroki

Banyak gejala bahwa ikatan-ikatan teritorial semakin hari semakin ditinggalkan. Banyak orang yang mendekati ketua lingkungan hanya pada saat mau membabtiskan bayinya, mau menikah atau pada saat anggota keluarganya yang meninggal. Selebihnya banyak umat mengandalkan oase-oase kategorial. Mereka tidak mau terikat secara teritorial tetapi aktif dalam kelompok-kelompok meditasi, kelompok persekutuan doa, HSM, Tritunggal Mahakudus (KTM), Pria Sejati – Wanita Bijak, SEP, KEP, Legio, Kelompk Sosial dan sebagainya. Semakin hari ikatan kategorial mereka semakin solid, dirasa menjawab kebutuhan iman, dan tak lagi menggubris kegiatan teritorial. Desakan dari pengurus lingkungan untuk bergabung di kegiatan lingkungan kadang dianggap sebagai pemaksaan kehendak.

Gejala itu bukannya tanpa alasan. Mereka mendapatkan kenyamanan dalam pencarian iman dengan cara yang serupa, dengan teman-teman sebaya dan segaya, dan sebagainya. Semua itu memang diperlukan untuk proses pengendapan. Namun tanpa kita sadari kita telah membangun gereja homogen, yang dikerdilkan oleh minimnya tantangan relasi interpersonal pada pribadi yang mengandung banyak perbedaan.

Bahkan saat ini lahir dan berkembang aneka “pusat spiritualitas” yang juga menyelenggarakan perayaan-perayaan ekaristi, meditasi dan kajian-kajian iman yang aktifitasnya mirip paroki namun dikelola selayaknya event organizer (EO). Fasilitas-fasilitas seperti itu bisa menjadi oase di luar jadwal paroki, tetapi pada saat yang sama menjauhkan umat dari pola-pola parokial yang lebih menantang.

Kreatifitas dalam membangun kelompok kategorial di tingkat paroki dan upaya mengintegrasikannya dengan basis teritorial setiap saat merupakan tanggungjawab dan tantangan setiap tenaga pastoral perkotaan. Pengurus teritorial seperti ketua lingkungan, ketua wilayah, dan pastor paroki dituntut berani berjatuh bangun dengan umat selingkungannya/sewilayah/separoki dalam membangun komunitas kecil yang menghadirkan semangat kekeluargaan dengan segala perbedaan yang melandasinya, pada saat yang sama memberi ruang bagi umatnya untuk bertumbuh lewat pelayanan-pelayanan kategorial.

  1. Membawa Pelancong “Pulang”

Gaya “kuliner” untuk membandingkan aneka rasa masakan di berbagai restoran juga terbawa persis di hidup menggereja kota. Banyak orang diam-diam mencicipi pengajaran dan peribadatan gereja lain. Banyak yang kemudian menjadi fanatik dan membela mati-matian “rasa baru”-nya. Ada yang berdalih liturgi Katolik yang membosankan, paham yang tak bisa diterima tentang Maria, orang kudus, patung, api pencuncian dan sebagainya.

Tetapi jangan lupa,  ada sekian banyak dari mereka yang benar-benar kembali dan merasa bahwa Gereja Katolik adalah rumah yang membuat mereka merasa kaya dan damai untuk pulang, merasa bahwa Gereja Katolik memiliki sumber-sumber yang tak terbandingkan dengan komunitas manapun.

Titik kritis Gereja terjadi ketika paroki dan elemen-elemennya tak mampu menawarkan “evangelisasi baru” dan sambutan hangat terhadap mereka yang pulang. Ironis tetapi kadang terjadi,  sambutan sinis, “tumben, ndengaren, njanur gunung, mimpi apa….” lebih dahulu diluncurkan bagi mereka yang pulang daripada rangkulan penuh kasih sayang.

Tenaga pastoral memiliki tantangan untuk membawa setiap hati “berpulang” ke rumah, untuk tinggal bernama orang kudus sebagai leluhur, duduk bercengkerama nyaman dengan Ibu (Maria), makan di meja ekaristi, bersantai di ruang keluarga yang dihiasi dengan ikon potret keluarga para kudus yang membantu mengingat Tuhan, membagikan berkat dalam komunitas lingkungan, dan berdoa bagi arwah yang dalam perjalanan kesempurnaan.

  1. Menggalang Solidaritas Untuk Pemberdayaan

Kita harus mengakui banyak umat perkotaan Indonesia begitu murah hati.  Baksos menjadi semacam program wajib setiap lingkungan atau wilayah, pengumpulan dana tak banyak mengalami kendala apalagi bila terjadi bencana. Banyak paroki telah memiliki karya-karya yang pantas diapresiasi tinggi karena konsistensinya dan karena nuansa solidaritas dan pemberdayaan yang cukup kental seperti poliklinik kesehatan murah, program beasiswa dan panti asuhan paroki, paguyuban subsidi kematian, dan sebagainya. Meski demikian paroki perkotaan tetap perlu mengingatkan pentingnya upaya perubahan sosial yang sistemik, yang menjamin hidup yang berkeadilan, berkesetaraan, dan penuh perdamaian.

Untuk itu di sana-sini masih harus dipikirkan pembangunan semangat solidaritas yang memiliki karakter berikut:

  1. Menggerakkan pelayanan dua sisi, yang amal-karitatif dan upaya pemberdayaan berkesinambungan. Keduanya perlu diwujudkan secara berimbang, mengingat banyak umat perkotaan masih memerlukan pertolongan darurat, namun pada sisi lain memerlukan perubahan sosial yang berkesinambungan. Gereja memang bukan lembaga sosial, bukan analis sosial, dan jelas bukan LSM, tetapi Gereja memiliki diakonia sebagai salah satu pilar kehidupannya dan memiliki panggilan untuk terus melakukan perubahan sosial lewat aneka pemberdayaan kalau mau membuat karyanya berdampak jangka panjang.
  2. Mengutamakan perjumpaan. Banyak aktifitas sosial gerejani diwakili oleh kelompok-kelompok tertentu dan tidak melibatkan semakin banyak orang. Akibatnya Gereja sering merasa berjasa tetapi hanya berhenti di pengiriman dana, tidak melakukan perjumpaan yang memotivasi orang duduk sebangku dengan orang miskin, makan semeja dengan kaum gelandangan, bermain di halaman yang sama dengan anak-anak pinggiran. Tanpa itu, kita akan menjadikan kaum miskin sekedar sebagai batu pijakan menuju surga, bukan teman setara dalam peziarahan hidup.
  3. Mendorong umat berani keluar. Umat perkotaan mapan memiliki banyak potensi untuk bergerak keluar, pada saat yang sama memiliki timbunan lemak yang melambankan gerak keluar. Keluar berarti berani meninggalkan kemapanan, proaktif “reaching out” atau menjangkau, bukan menunggu lalu ngrasani yang tidak datang. Misi di perkotaan mesti siap dengan rasa sakit karena pengorbanan, ada rasa perih karena ditolak, berani mencium bau “sampah” kepenatan kota. Sentuhan Paus Fransiscus ini keras dan tajam menohok: “Saya lebih bersimpati pada Gereja yang rapuh, terluka dan kotor karena menceburkan diri ke jalan-jalan, ketimbang sebuah Gereja yang sakit lantaran tertutup dan mapan mengurus dirinya sendiri.” (EG 49)
  4. Memilih pelayanan yang merangkul. Paroki-paroki perkotaan menjadi lembaga mandiri, yang serba berkecukupan dan mapan. Bila tak disadari, kondisi seperti ini menggiring paroki menjadi lembaga protektif dan buta, sibuk menjaga mamon, dan tak mampu melihat aneka stakeholders di seputarnya. Gereja perlu terus membuka sikap analitis dan terbukanya pada kelompok-kelompok masyarakat lain di sekitarnya, sama dengan perhatiannya pada seluruh cabang pelayanan dalam institusi parokinya. Gereja perkotaan perlu menguatkan relasi dengan RT-RW, lembaga pemerintahan, lembaga militer daerahnya, para pedagang di pasar terdekat, kaum miskin dan masyarakat sekitar pada umumnya. Hanya dengan cara itu maka Gereja akan menjadi Lumen Gentium (terang bangsa-bangsa) karena kehidupan baiknya, dan pada saat yang sama menjadi Gaudium et Spes (Sukacita dan Harapan) karena sapaan kasihnya bagi seluruh umat manusia.
  5. Mengutamakan medan strategis. Kita paham bahwa strategi bukan hanya soal perang, tetapi juga dalam soal berpastoral. Menjadi strategis berarti mampu berpikir ala jendral (strateigon), mengambil satu tindakan yang akan berdampak luas. Paroki-paroki perkotaan memiliki banyak cabang pelayanan. Ada bidang-bidang yang saling berkaitan. Efektifitas pastoral bisa tercapai bila kita mampu memanfaatkan sumber daya yang ada untuk memberi dampak sosial dan iman yang makin besar. Kompleksitas masalah perkotaan menantang kita untuk mencari bidang-bidang pelayanan yang akan memiliki dampak dalam dan luas.
  6. Membeberkan Kehadiran Allah. Berpastoral bukanlah soal aktifisme, tetapi menggembalakan umat untuk menemukan rumput hijau dan air segar kehidupan iman, sekaligus membela domba dari serangan serigala pemangsa iman yang nyata pada jaman ini. Setiap langkah solidaritas kita, bukan dilandasi kewajiban sosial sebagai warga manusia, tetapi sebagai panggilan karena Allah menghedaki demikian bahkan Kristus hadir dalam wajah kamu miskin. Perwujudan solidaritas kita bukan karena kita berbelas kasih saja, tetapi karena kita mau memancarkan Allah yang penuh belas kasih.

125 Tahun Rerum Novarum Pada Tahun Belas Kasih

Pada tahun 2016 ini genap 125 tahun dipromulgasikannya Ensiklik Rerum Novarum oleh Paus Leo XIII pada tahun 1891.  Rerum Novarum menjadi semacam monumen lahirnya cara menggereja yang baru, yang ditandai dengan keterlibatan kenabian Gereja pada situasi sosial, politik, dan ekonomi jamannya. Peringatan-peringatan Rerum Novarum dimanfaatkan oleh para paus berikutnya untuk merefleksi ulang bagaimana Gereja hadir di tengah kenyataan dunia. Rangkaian dokumen mulai Rerum Novarum dan yang mengikutinya kemudian akrab kita sebut sebagai  Ajaran Sosial Gereja (ASG).

Angka 125 hanyalah sekedar angka, tetapi kiranya menjadi momen istimewa dan baik bagi umat kristiani untuk merefleksi ulang keterlibatan kenabian kita pada suka duka dunia, perhatian kita yang serius akan dunia perburuhan, yang nota bene menjadi pintu masuk yang efektif untuk berbicara perubahan sosial yang sistemik, dan mempertanyakan secara strategis bagaimana Yubileum Belas Kasih tak berhenti pada ulah batin devosional tetapi menjadi aksi nyata.

Seruan Rerum Novarum

Rerum Novarum lahir dalam konteks perubahan sosial yang drastis akibat revolusi industri di wilayah Eropa, menguatnya fokus pada peran modal, bangkitnya gagasan tentang demokrasi, dan pada sisi lain makin nyatanya bahaya gerakan komunisme revolusioner yang merasuki kalangan buruh atau pekerja.  Karena itu tak heran kalau kemudian fokus perhatian ensiklik ini tertuju pada persoalan-persoalan perburuhan yang sarat sentuhan dengan masalah-masalah lain seperti di atas.

Rerum Novarum mengangkat kecenderunpekerjagan baru di dalam dunia industri, di mana nasib buruh diserahkan pada penawaran dan permintaan pasar tenaga kerja. Karena kodrat rakusnya kapital, maka buruh akan cenderung dianggap sebagai beban produksi.  Dengan demikian pengeluaran untuk kesejahteraan buruh akan ditekan seminim mungkin. Hasilnya bisa diduga, buruh hidup dalam kemiskinan yang parah dan semakin parah.

Untuk kondisi seperti itu Paus Leo XIII berseru kepada tiga pihak, yakni buruh, pemodal dan negara. Dengan tegas Paus Leo XIII berseru kepada buruh untuk bekerja sesuai perjanjian kerja,  untuk menjaga keutuhan aset pemodal, dan menghidarkan diri dari rayuan manis “orang baik yang berprinsip buruk”, untuk menyebut orang-orang yang ingin mencari solusi kemiskinan buruh tetapi membenarkan kekerasan. Kepada pengusaha, Paus Leo XIII berseru untuk menghormati martabat buruh yang jauh melebihi faktor produksi, untuk tidak memberi beban buruh melebihi kemampuannya untuk memikul, dan memberi kepada buruh upah yang adil dan tidak dicurangi sedikitpun demi keuntungan pihak lain. Kepada negara Paus Leo XIII mengingatkan keharusan negara untuk menjamin terpenuhinya keadilan distributif.

Tantangan Pada Tahun Belas Kasih

Bagaimana kita menterjemahkan peryaan 125 tahun Rerum Novarum yang bertepatan dengan perayaan Yubileum Belas Kasih ini? Paus Fransiskus begitu mendarat ketika memaknai kerahiman Allah sebagai perhatian ilahi yang penuh kasih kepada umat manusia.  Allah sendiri  merasa bertanggung jawab; yaitu, Ia menginginkan kesejahteraan umat manusia dan Ia ingin melihat kita manusia bahagia, penuh sukacita, dan penuh damai (Surat Misericordiae Vultus art. 9).  Rerum Novarum dan dokumen yang mengikutinya selalu menjadi PR kita untuk melihat tanggung jawab umat kristiani dalam memancarkan iman yang ditandai keterlibatan yang kuat dalam mewujudkan kesejahteraan bersama.

Paus Fransiskus juga menyarankan agar ritus puasa dan matiraga Gereja dimaknai sebagai upaya menghadirkan semangat keibuan Gereja yang rahim penuh ampun, sekaligus meneladankan semangat hidup berkeadilan. “Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! (Misericordiae Vultus art. 17)

Perayaan 125 tahun Rerum Novarum mempertanyakan lagi apakah buruh masih menjadi“buah hati Gereja”, yang mesti merasakan buah dari keadilan dan perdamaian. Bila ya, bagaimana kita akan terlibat dalam aneka permasalahan perburuhan? Pada jaman ini kaum buruh harus berjuang menghadapi iklim ketenagakerjaan yang menempatkan mereka pada status kerja yang tidak menentu, praktek kontrak dan outsourcing tanpa kita sadari telah menjadi penggilas nasib buruh di era modern ini. Bagaimana Gereja akan hadir kembali dalam medan struktural ini dan menggaungkan seruan-seruan Rerum Novarum?

Ignatius Suparno, CM

(Moderator Forum Pendamping Buruh Nasional)

MENCARI DUKA SEORANG IMAM

(Sharing Pengalaman Kecil)
colarMeski berhimpitan jadwal, namun aku masih menyanggupi untuk misa menggantikan Rm. Puji di Paroki Marinus Yohanes Kenjeran pada hari Minggu yang lalu. Setelah misa saya akan segera meluncur pulang ke Paroki Kristus Raja untuk memimpin perkawinan. Beberapa anak yang meminta tanda tangan di buku tugasnya aku layani dengan cepat. Tetapi ada seorang anak lelaki remaja SMP yang tiba-tiba meminta wawancara. Saya katakan untuk mencari romo lain, karena saya buru-buru. Tetapi anak ini bersikeras harus wawancara. Ibunya pun turut meyakinkan agar saya berbelas kasihan pada anaknya dan memberi waktu. Saya katakan untuk lakukan wawancara di paroki Kristus Raja setelah upacara perkawinan. Saya tegaskan bahwa saya tak ada waktu lagi.

Karena anak ini mendesak terus aku sanggupi dengan super cepat. Anak ini berjanji untuk menuliskan jawaban dengan cepat. Dan benar, setiap pertanyaan anak ini saya sambut langsung dengan jawaban. Anak inipun terengah-engah untuk mencatat jawaban saya. Tetapi dari cara menuliskan jawaban, saya menduga kalau anak ini cerdas, dan menangkap dengan jelas maksud saya. Sudah saya duga, semua pertanyaannya akan berhubungan dengan riwayat hidup, panggilan, dan karya-karya imam.

Saya senang sudah mau melewati limabelasan pertanyaan dan sampai pertanyaan terakhir. Pertanyaan terakhirnya adalah, “Ceritakan suka-duka Romo sebagai imam?”

Dengan cepat saya menjawab pengalaman menggembirakan saya, bisa berjumpa dan melayani sekian banyak orang. Tetapi saya tak bisa menjawab dukanya. Saya bertingkah seolah-olah sudah menyelesaikan semua jawaban dan langsung lari keluar halaman. Tetapi anak ini lagi-lagi memohon-mohon untuk menjawab pertanyaan tentang duka saya sebagai imam.

Saya katakan lagi, “Dik saya tidak tahu. Kesulitan memang ada, tetapi saya tak pernah bersedih atau berduka karena kesulitan itu.”

Anak ini tetap memohon, “Tolong Romo, Tolong lengkapi?!!”

Saya berhenti dan saya katakan dengan perasaan tak berdaya, “Dik, sungguh aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu.”

Sambil perjalanan ngebut dengan sepeda motor, bahkan sepanjang hari itu saya lalu dihantui pengalaman tadi. Mengapa saya tak bisa menjawab duka seorang imam? Apakah memang tidak ada sama sekali, atau saya berpura-pura, ataukah selama ini saya menyembunyikan kenyataan. Pertanyaan itu akhirnya menggelisahkanku. Aku ingat persis ketika anak itu memohon jawaban dan saya memohon pengertiannya. Ya, selama ini kesulitan juga tak sepi dari hidup saya. Ada kegagalan, kesalahpahaman, kurang dukungan, kehabisan sarana, ancaman, dan sebagainya. Akan tetapi, bagi saya semua itu tak pernah berubah menjadi duka.

Saya bertanya-tanya, mengapa demikian. Ada kemungkinan karena saya terbiasa hidup sulit di masa kecil. Ada kemungkinan karena karya-karya saya di yayasan sosial dan di paroki selama ini banyak mempertemukan saya dengan orang-orang berkesulitan , sehingga saya tak pernah merasa lebih sulit dari hidup mereka. Atau barangkali karena saya terus-menerus harus memberi kesaksian tentang pengharapan dalam kesulitan, sehingga saya tak mampu melihat kesulitan itu sebagai sumber duka yang mendalam. Rasanya kebuntuan ini aneh, tetapi menjadi rahmat tersendiri bagi saya.

Saya tak menanyakan nama anak itu, sekolah di mana, kelas berapa, dan lain lagi. Tetapi pertanyaannya membuat saya mengingat perjumpaan dengannya.

Renungan Minggu Biasa XXI-B

“PERKATAANMU ADALAH PERKATAAN HIDUP YANG KEKAL”

Bacaan hari ini merupakan bagian terakhir dari Injil Yohanes bab 6. Di antara aneka pengajaran Yesus, tema roti hidup sungguh menantang para murid untuk melihat Yesus tak sekedar sebagai pribadi ilahi-surgawi, tetapi bahkan sebagai makanan kehidupan. Banyak orang percaya dan setia pada Yesus, tetapi tak sedikit juga yang pergi meninggalkan Yesus karena firmanNya terasa sangat keras, tidak logis, bahkan dirasa menghujat Tuhan. Pada bagian terakhir ini Yesus menguji komitmen para murid dengan sebuah pertanyaan, apakah kamu akan pergi juga?

Tantangan-tantangan keseharian hifirmandup kita sebenarnya adalah tantangan yang sama yang diterima para murid. Kekecewaan kita pada Tuhan sering menggoda kita untuk pergi, berpaling dari-Nya, atau sekedar tidak mau berpikir tentang Tuhan lagi. Bahkan ada yang secara demonstratif menghujat Tuhan. Pada saat yang sama“hukum alam” itu juga akan memunculkan orang-orang yang memiliki kualitas iman yang tinggi, yang mampu menangkap rahasia terdalam dari pesan Yesus. Mereka tidak meninggalkan Yesus meski firman-Nya sangat keras.

Petrus seperti mewakili para murid yang lain untuk menyampaikan keputusan finalnya dengan mengatakan, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal” (Yoh 6:68). Bagi Petrus, meninggalkan Yesus tidak sekedar tidak mendapatkan guru bijaksana, tetapi akan lebih fatal lagi, tidak mendapatkan jaminan kehidupan kekal. Baginya sekarang tidak ada lagi kata memilih yang lain, karena memilih meninggalkan Yesus berarti akan kehilangan kehidupan yang kekal. Petrus bulat dengan segala resiko memilih untuk tinggal bersama Yesus dan pergi kemanapun Yesus pergi. Itu bukan tanpa resiko. Para murid bisa saja terancam dikucilkan tetangga, dianggap pengikut ajaran sesat para guru kitab di sekitarnya, bahkan sangat mungkin ikut teraniaya bila gurunya, Yesus, juga teraniaya.

Praktek iman kita selalu diwarnai pencarian, kesabaran berhadapan dengan rentang waktu, iming-iming atau godaan, penyelewengan, emosi, tantangan, cercaan orang lain, bahkan ancaman dari orang-orang yang tidak suka.  Semua adalah gelombang samudera untuk menguji kita, apakah kita akan tetap memilih perahu Yesus,  tinggal bersamanya, menjalin hubungan akrab dengannya, dan pergi mengikutinya. Hanya mereka yang setia sampai akhir akan mendapatkan mutiaranya, kehidupan yang kekal.

 

Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran

Kebanyakan orang mengira bahwa Gereja Basilika Santo Petrus adalah gereja utama di Roma. Hal itu bisa dimengerti karena banyak peristiwa penting gerejani bersama Bapa Paus sering dilakukan di sana. Akan tetapi yang utama bagi Gereja Katolik adalah Gereja Basilik Lateran.

basilicjohnlateran

Bahkan di Basilik ini tertulis “Ibu dan hamba bagi Gereja seluruh kota dan dunia”. Basilik ini didirikan Kaisar Konstantinus Agung pada tahun 324 sebagai ungkapan syukur atas pembebasan  Gereja katolik dari penganiayaan selama tiga ratus tahun oleh kaisar-kaisar kafir Romawi. Meski demikian, apa hubungannya dengan kita? Mengapa kita mesti merayakan pemberkatannya?

 

Bait Allah

Pemberkatan Basilik Lateran mengingatkan kita akan martabat luhur kita sebagai Bait Allah, rumah kediaman Allah yang telah dibebaskan dari penindasan dosa, rumah doa yang telah diberkati dan dikuduskan Allah lewat pembaptisan.

Mulanya Biasa Saja

Belajar dari peristiwa Yesus yang menyucikan Bait Allah, kita disadarkan kembali bahwa kita  tak luput dari kealpaan yang kadang dimulai dari hal yang sangat biasa saja. Siapakah sebenarnya orang-orang yang berdagang di bait Allah itu? Mereka adalah orang-orang baik yang secara turun-temurun berjualan menyediakan bahan-bahan persembahan dan kurban. Ada yang menjual lembu, domba, merpati, dan barang barang lain sebagai tanda bakti kepada Allah. Karena tempat itu adalah tempat perjumpaan orang dari berbagai bangsa, maka ada penukar-penukar uang, supaya peziarah ke bait Allah ini tidak kesulitan belanja dan memberi derma. Semua bermula dengan hal baik dan berjalan biasa saja. Tetapi tanpa di sadari para pedagang tak lagi mengingat tujuan luhur persembahan itu. Mereka lalu hanya melihat Bait Allah itu sebagai tempat untuk berdagang dan mendapatkan untung. Yesus mengusir mereka bukan karena membenci mereka, tetapi hendak mengangkat kembali kesadaran akan tujuan terpenting bait Allah itu, yakni sebagai tempat perjumpaan umat dengan Allahnya.

Pencemaran dosa atas diri kita sering diawali dengan hal yang biasa, bahkan semula baik tujuannya. Tetapi tanpa kita sadari, kita tak lagi mengedepankan perjumpaan kita dengan Allah. Belenggu korupsi dimulai dari ketidakjujuran pada hal-hal sepele, pembunuhan diawali kemarahan, kemarahan diawali oleh rasa iri, rasa iri diawali oleh kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Contoh lain, kadang terjadi ada orang yang semula bertujuan mulia memfasilitasi ziarah, setelah merasakan ada keuntungannya lalu membabi buta memanfaatkan setiap media Gereja untuk tujuan pribadinya.

Revolusi Mental

Penyucian Yesus atas bait Allah bukan sekedar peristiwa pengosongan sebuah gedung dari aktifitas perdagangan. Melainkan sebuah “revolusi mental” bagi setiap orang yang memasukinya. Kecintaan kita pada rumah Bapa akan membuat kita rela terbakar hangus dan berubah. Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.” Demikian dikatakan dalam Injil Yohanes (2:17). Untuk hal ini Tuhan tak sekedar rela hangus, Ia rela mati di salib. Dan untuk itu ia mengingatkan, bahwa ia runtuh luluh lantak dan mati, tetapi dibangun kembali dalam tiga hari, dibangkitkan mulia oleh Bapa. Ketika Tuhan menggoncang dan mengobrak-abrik hidup kita, hal itu pun adalah sebuah perjalanan untuk kita dihanguskan, diubah, dikuduskan dan dibangun kembali serta dibangkitkan mulia.

Dengan demikian, perayaan Pemberkatan Gereja Basilik Yohanes Lateran menjadi perayaan atas kehidupan kita yang diangkat kembali oleh Allah. Terpujilah Tuhan!!

Renungan Harian Minggu Biasa Ke-15-C

Minggu, 14 Juli 2013: Hari Minggu Biasa XV

Ul. 30:10-14, Luk. 10:25-37

SIAPAKAH SESAMAMU?

Menjaga Reputasi

Ada orang tak dikenal terbaring dalam keadaan luka. Imam dan Orang Lewi yang melihatnya lewat saja tanpa menolongnya. Pastilah kita menghakimi mereka sebagai orang tidak baik, bagaimana mereka yang adalah imam dan kaum imami justru tidak berbuat-apa-apa. Jangan lupa mereka bertindak benar menurut hukum. Mereka adalah kaum yang berurusan dengan Bait Allah, yang tidak boleh bersentuhan dengan darah. Kalau dilakukan, ia akan dianggap tidak bersih. Demi melangsungkan panggilan keagamaannya mereka menjaga reputasi dengan cara mentaati hukum itu.

orgsamariaPada saat ini ada banyak orang berdarah, dalam arti yang lebih luas, dan dianggap perlu dijauhi. Ada yang dijauhi karena perlilaku buruk, ada yang dijauhi karena menderita AIDS, ada yang dijauhi karena pernah masuk penjara, ada anak yang dijauhi karena tidak jelas siapa orang tua atau asal-usulnya, ada yang dijauhi karena urusannya adalah urusan manusiawi yang dianggap tidak berhubungan agama. Intinya, mereka tidak bisa dianggap sebagai sesama. Dan kenyataannya, banyak yang menjaga kemurnian moral dan agama dengan menjauhi mereka.

Orang Menyeberang

Kata menyeberang tidak selalu harus dihubungkan dengan sungai atau agama lain. Kita perlu menyeberang batin, atau mungkin lebih tepat menyeberangkan batin. Orang Samaria adalah orang yang dianggap sebagai “orang asing.”  Meskipun mereka adalah bagian tak terpisahkan dari bangsa Israel, namun secara sosial mereka dipisahkan karena dianggap tidak setia

Sebaliknya orang Samaria ini justru yang paling mewakili hati Tuhan yang prihatin dan bertindak ketika melihat domba yang tak bergembala, ketika melihat penderita yang tak memiliki penolong. Belas kasihnya telah melampaui batas-batas sosial, mengalahkan dendamnya sebagai kelompok yang sering dipinggirkan, bahkan mengalahkan penilaian moral apapun dari masyarakatnya. Batinnya telah menyeberang dari manusia kepentingan menjadi manusia belas kasih.

Sesama

Kata “sesama” di dalam masyarakat umum menjadi sangat relatif, karena tergantung relasinya. Dia sesama karena datang dari asal suku yang sama, dari almamater yang sama, dari agama yang sama, dari pandangan yang sama, dari kelas sosial yang sama, dan sebagainya. Di dalam Yesus, kata “sesama” menjadi lebih sederhana dan mutlak, mereka  yang berbelas kasih, dialah sesama. Belas kasih mengatasi batas-batas moral dan perbedaan latar belakang.

Yesus tidak merendahkan moral yang diajarkan Taurat. Sebaliknya ia memberi makna terdalam dan nafas segar dalam mengartikan Taurat.  Mengikuti Tuhan tidak sekedar menjadi orang taat moral, tetapi menjadi orang yang penuh kasih. Tanpa belas kasih maka ajaran moral hanya akan menjadi belenggu hidup di dalam Tuhan; bahkan Yesus dengan jelas mensinyalir akan menjadikan manusia budak atas hukum Taurat. Kini nyata di masyarakat kita, moral sering menjadi bahasa yang tak menyatukan, menjadi alat untuk mengawasi dan mengadili hidup orang lain, sebaliknya belas kasih selalu menjadikan setiap orang sesama.

Di dalam terang injil, kata sesama bukanlah berbicara tentang orang lain, tetapi tentang sikap batin kita terhadap orang lain. Marilah belajar menyeberang, melangkah menuju sikap batin yang baru.   Ketika belas kasihpun masih dicurigai, tetaplah menyeberang!!!

 

 

Senin, 15 Juli 2013: Pw S. Bonaventura

Mat. 10:34 – 11:1

KURBAN PENGIKUT KRISTUS

Firman ini menggelisahkan,  “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang”  Setiap orang ingin damai yang dihasilkan dari kelekatan-kelekatan dengan orang dekat. Akan tetapi Tuhan tetap menegaskan bahwa mengikuti Kristus berarti memberanikan diri melepaskan kelekatan dengan orang dekat, bahkan nyawanya sendiri.

 

 

Selasa, 16 Juli 2013

Mat. 11:20-24

YANG PENTING BERTOBAT

Ketika orang lain mengalami kemalangan, kadang kita tergoda untuk menanyakan apakah salahnya. Bagi Yesus yang terpenting bukan melihat salahnya di masa lalu, tetapi apakah orang mau bertobat atau tidak. Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizat-Nya: “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung.”

 

Rabu, 17 Juli 2013

Mat. 11:25-27
YANG TERBUKA

Daya pikir memang sangat berguna, tetapi kemampuan pikir bukan ukuran untuk bisa mengenal rajasia ilahi. Yesus berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.” Hanya yang bersikap rendah hati, terbuka, an merasa kecil di hadapan Allah sajalah yang mampu melihat jelas kemuliaan Allah.

 

Kamis, 18 Juli 2013

Mat. 11:28-30

MEMIKUL KUK 

Kuk adalah alat untuk memasangkan sapi dengan sapi pasangannya dan dengan bajak.  Kuk akan menjadi semacam beban yang ukurannya telah disesuaikan dengan sapinya. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Tuhan memanggil kita untuk memikul beban tanggungjawab sesuai dengan ukuran kemampuan kita. Mengapa kadang kita masih menggerutu?

 

Jumat, 19 Juli 2013

Mat. 12:1-8
SENJATA TUHAN

Menjadi legalistis itu sebenarnya paling mudah, tinggal mengikuti pedoman aturan yang telah disediakan. Akan tetapi orang legalistis cenderung tidak manusiawi, karena mereka menghamba aturan, dan cenderung menyalahkan orang dengan hukum yang berlaku. Hidup dengan kasih akan sedikit lebih rumit, karena sikapnya rak hanya diukur dengan ayat hukum, melainkan dengan empati terhadap yang bersangkutan. “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Tuhan datang bukan dengan senjata hukum, tetapi dengan kasih.

Sabtu, 20 Juli 2013

Mat. 12:14-21

TAK PATAH
Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap.” Langkah Yesus tak akan terhenti hanya karena penderitaan. Ia memanggil kita menjadi saksi kesetiaan, bahkan kalau kesetiaan itu harus dibayar mahal dengan kesulitan hidup. Terpujilah Tuhan!