MINGGU BIASA V-A

Senin, 7 Februari 2011 : Hari biasa

Kej.1:1-14; Mzm. 104:1-2a,5-6,1Q12,35c;Mrk. 6:53-56

Setibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ. Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus. Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada. Ke mana pun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.

MENJAMAH JUBAH YESUS

Mereka yang menjamah jubah Yesus tak memerlukan action spektakuler untuk kesembuhannya. Demikianlah penginjil menggambarkan kepercayaan orang-orang pada kuasa Yesus. Seberapa kita damai merasakan setiap efek iman kita, tanpa mengejar Tuhan untuk melakukan hal-hal spektakuler?

 

Selasa, 8 Februari 2011 : Hari biasa

Kej. 1:20-2:4a; Mzm. 8:4-5,6-7,8-9; Mrk. 7:1-13

Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga.

MENGUKUR IMAN

Bangsa Yahudi jaman itu mengukur iman dan keselematannya dari perbuatan-perbuatan ibadah. Yesus menegur simpang siur iman mereka, dan meminta memberi perhatian utama pada sesuatu yang mendasar, yakni ketaatan pada kehendak Allah, bukan sekedar praktek ibadah.

 

Rabu, 9 Februari 2011 : Hari biasa

Kej. 2:4b-9.15-17; Mzm. 104:1-2a,27-28,29b-30; Mrk. 7:14-23

Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu. Maka jawab-Nya: “Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?” Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal. Kata-Nya lagi: “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.

CARI INTI PESAN

Kita sering ikut-ikutan berpikir sempit dengan memastikan mana yang boleh dan tak boleh, lalu menggunakannya sebagai aturan baku. Sementara hati kita tumpul untuk melihat mana yang utama dan mana yang tambahan di dalam hidup beriman. Ketika kanak-kanak kita berpikir seperti kanak-kanak, ketika kita dewasa, kita mesti berpikir sebagai orang dewasa, demikian Paulus mengingatkan.

 

Kamis, 10 Februari 2011 : Pw S. Skolastika

Kej. 2:18-25; Mzm. 128:1-2,3,4-5; Mrk. 7:24-30;

Seorang ibu, yang anaknya perempuan kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya. Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya. Lalu Yesus berkata kepadanya: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Tetapi perempuan itu menjawab: “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Maka kata Yesus kepada perempuan itu: “Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.”

URUS KAMI DULU

Di koran Indonesia saya membaca kritik, “Urus negara sendiri dulu, baru berpendapat tentang Mesir” Hal senada diucapkan, “Mengapa harus memperhatikan komunitas lain, perhatian ke dalam dulu” Kata-kata itu sederhana, tetapi kuat sekali menjadi jalan setan untuk memberangus semangat solidaritas dan misi umat manusia. Orang tak pernah berbuat apa-apa, karena merasa “belum cukup.” Apakah dalam hidup pribadi dan komunitas kita masih diberangus logika itu? Terhadap kaum yang diidentikan dengan anjing pun akhirnya Tuhan Yesus menyapa.

 

Jumat, 11 Februari 2011 : Hari biasa

Kej. 3:1-8; Mzrn. 32:1-2,5,6,7; Mrk. 7:31-37

Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: “Efata!”, artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. Mereka takjub dan tercengang dan berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.”

TERLALU BESAR UNTUK TIDAK PERCAYA

Mujizat Yesus sangatlah dahsyat. Bagi orang yang tahu betapa cacat tuli dan bisu itu berpasangan, dan terhadap cacat ganda seperti itupun Tuhan menyembuhkan. Tak ada alasan bagi orang-orang itu untuk tak memuliakan dan mengikut Tuhan. Seberapa kekuasaan Tuhan juga membuka telinga dan mulut kita untuk memuliakan dan mengikutinya?

 

Sabtu, 12 Februari 2011 : Hari biasa

Kej. 3:9-24; Mzm. 90:2,3-4, 5-6,12-13; Mrk. 8:1-10

Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.” Murid-murid-Nya menjawab: “Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?” Yesus bertanya kepada mereka: “Berapa roti ada padamu?” Jawab mereka: “Tujuh.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah.

KEMAUAN MENCARI SOLUSI

Pepatah mengatakan, “ada kemauan ada jalan.” Yesus tak pusing pada kemampuan para murid, tetapi pada kemauan mereka. Karena kemauan mereka menunjukkan simpati dan solidaritas  mereka pada orang yang memerlukan bantuan. Mulai usahakanlah sesuatu, biarkan Yesus melengkapinya.

2 responses to this post.

  1. Posted by Bunda Ika Stansa on February 11, 2011 at 5:06 AM

    Mo…
    Renungannya ta share di FB ku…
    maaf.. tidak ijin dulu..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: