Renungan Harian Minggu Biasa VII-A

Senin, 21 Februari 2011 : Hari biasa
Sir. 1:1-10; Mzm. 93:1ab,1c-2,5; Mrk. 9:14-29

Lalu mereka membawanya kepada-Nya. Waktu roh itu melihat Yesus, anak itu segera digoncang-goncangnya, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang mulutnya berbusa. Lalu Yesus bertanya kepada ayah anak itu: “Sudah berapa lama ia mengalami ini?” Jawabnya: “Sejak masa kecilnya. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!?”

JIWA BESAR

Kasihan juga melihat anak yang kerasukan itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling. Apalagi kalau persaan itu harus dialami setiap hari oleh ayah dalam Injil itu. Karena itu dengan tegas ia berkata “Aku percaya, tolonglah aku yang kurang percaya ini!” Ia percaya pada Yesus, dengan kesadaran bahwa kepercayaannya sangatlah kurang dibanding kuasa Tuhan. Coba perhatikan “attitude” atau sikap rendah hati dan berjiwa besar sang ayah itu.

 

Selasa, 22 Februari 2011 : Pesta Takhta S. Petrus

1Ptr 5:1-4; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Mat. 16:13-19

Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

MEMBENTUK DAN MEMPERCAYAKAN

Hanya seniman yang tahu benar mengukir bongkahan batu menjadi patung yang indah dan sangat mahal. Pertanyaan Yesus tentang dirinya rupanya bukan sekedar untuk mengevaluasi diriNya sendiri, tetapi untuk para murid, untuk melihat bagaimana para murid membentuk diri dalam Yesus. Mengagumkan, Petrus yang adalah batu, keras, emosional tak terduga,  bisa  dibentuk Yesus menjadi pemimpin yang layak diberi kunci kerajaan surga. Kita semua adalah bongkahan batu yang dibentuk dari hari-ke hari, sejauh mana anda menjadi pribadi indah di dalam tangan Tuhan?

 
Rabu, 23 Februari 2011 : Pw S. Polikarpus
Sir 4:11-19; Mzm. 119:165,168,171,172,174,175; Mrk. 9:38-40;

Kata Yohanes kepada Yesus: “Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” Tetapi kata Yesus: “Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku.  Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.

GITU AJA KOK REPOT

Ayat ini mendapat implikasinya yang begitu jelas ketika kita mengumbar kekerasan karena perbedaan paham. Orang kadang tidak toleran lagi pada orang lain hanya karena datang dari kelompok lain yang berpendapat lain. Yesus mendapat pertanyaan yang sama, dan ia berkata, “(gitu aja kok repot) Jangan kamu cegah dia!” Pengenalan kita membuat kita lebih bijak dan terbuka atau lebih keras terhadap sesama?

 

Kamis, 24 Februari 2011 : Hari biasa
Sir. 5:1-8; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Mrk. 9:41-50

Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam. Karena setiap orang akan digarami dengan api. Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.”

ADA ISI

Orang yang memegang prinsip hidup kadang dianggap kaku atau keras, tetapi tak sedikit yang melihat bahwa ada “isi” di dalam dirinya. Kata-kata Yesus tentang mencungkil mata tentu terdengar sangat keras, akan tetapi Ia mau mengingatkan agar kita memiliki pegangan hidup, memiliki iman, memiliki keyakinan, sehingga kita benar-benar punya garam, punya isi, punya rasa di dalam hidup.

 

Jumat, 25 Februari 2011 : Hari biasa
Sir. 6:5-17; Mzm. 119:12,16,18,27,34,35; Mrk. 10:1-12

Jawab mereka: “Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

MINTA PEMBENARAN

Hampir setiap orang yang gagal dalam berkeluarga, membiara, atau dalam karir mencoba mencari pembenaran yang bisa dipahami oleh orang lain yang terus bertanya mengapa, mengapa, mengapa… Ada yang menjadikan perilaku orang lain atau hukum sebagai kambing hitam. Tetapi Yesus mengajak melihat ke dalam, karena sering ketegaran hati kitalah yang membawa masalah. Sejauh mana kita jujur melihat kegagalan kita dan bangkit lagi dengan memperbaiki point kerusakan kita?

 

Sabtu, 26 Februari 2011 : Hari biasa
Sir. 17:1-15; Mzm. 103:13-14,15-16,17-18a; Mrk. 10:13-16

Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka.

JADI KANAK-KANAK

Kita pantas malu kalau menjadi kekanak-kanakan, tetapi tak perlu malu belajar dari kanak-kanak yang bersih tanpa prasangka, yang terbuka untuk menerima dan menyerap pengajaran, dan merespon dengan “iman anak-anak”.  Yesus memilih contoh yang termudah untuk melawan keangkuhan manusia dengan mengundang anak-anak dekat padanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: