Renungan Harian Minggu Biasa IX-A

Senin, 7 Maret  2011 : Pw S. Perpetua dan Felisitas, Mrt

Tb. 1:1a,3;2: Ib-8; Mrk. 12:1-12

Lalu Yesus mulai berbicara kepada mereka dalam perumpamaan: “Adalah seorang membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Dan ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka. Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa.

BUKAN BALAS BUDI

Pada Yesaya bab 5 terdapat “kidung kebun anggur” yang menggambarkan cinta Tuhan yang dengan seksama memelihara Israel. Injil Markus mencatat cinta yang sama terhadap kebun anggur Tuhan itu tak berbalas cinta, sebaiknya kekejaman terhadap utusan-utusan Tuhan. Kita tak pernah mampu membalas pemeliharaan Tuhan, tetapi mampukah kita terbuka pada setiap utusan yang mewartakan cintaNya?

 

Selasa, 8 Maret 2011 :

Tb. 2:9-14; Mrk. 12:13-17

Kemudian disuruh beberapa orang Farisi dan Herodian kepada Yesus untuk menjerat Dia dengan suatu pertanyaan. Kayanya: “Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?” Tetapi Yesus mengetahui kemunafikan mereka, lalu berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mencobai Aku? Bawalah ke mari suatu dinar supaya Kulihat!” Lalu mereka bawa. Maka Ia bertanya kepada mereka: “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka: “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!”

PROPORSIONAL

Orang-orang licik mencoba menjebak Yesus dengan memasukkannya pada ekstrim antara ketaatan pada penguasa dunia dan kepada Allah. Repotnya mereka sendiri yang terjebak pada sikap tidak proporsional. Yesus mendudukkan perkara bahwa Allah dan pemimpin dunia tidak selalu menjadi dua kubu bertentangan. Kesempatan dialog itu dipakai Yesus meluruskan mereka agar memberi ruang pada kekuasaan Tuhan tanpa harus menentang penguasa dunia. Bagaimana cara pandang anda?

 

Rabu, 9 Maret  2011 : HARI RABU ABU Puasa dan Pantang.

Yl. 2:12-18; 2Kor. 5:20-6:2; Mat. 6:1-6,16-18

“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

 

PANGGILAN PADA KESUCIAN

Dunia semakin memasang manusia di panggung. Panggung itu bisa bernama facebook, tweeter, carpet merah, dan apapun.  Kita ternawa tarian hidup dipermukaan. Rabu abu mengingatkan kita untuk masuk pada kedalaman hidup dan berakar pada Tuhan Yesus. Rabu Abu adalah panggilan pada kesucian. Apakah kita masih memaksakan diri agar ibadah kita dilihat orang?

 

Kamis, 10 Maret 2011 :

Ul. 30:15-20; Luk. 9:22-25;

Dan Yesus berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?

DAPET KUNCI

Pendewasaan hidup manusia tak lain adalah perjalanan manusia menemukan yang terpenting , menempatkannya di tempat utama. Kata “Tuhan” bukanlah sekedar nama, tetapi bermakna sebuah komitmen bahwa yang kita tuhankan itu akan kita utamakan. Kalau kita menyebut Yesus sebagai Tuhan, adakah kita menempatkan dia di tempat pertama dalam setiap pertimbangan kita?

 

Jumat, 11 Maret 2011 :

Yes. 58:1-9a; Mat. 9:14-15;

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.

MEMANDANG MEMPELAI PERGI

Gambarkan perasaan seorang ibu ketika anak perempuannya menikah. Ada sukacita karena berhasil mendewasakan anak gadisnya, tetapi ada perasaan pilu sedih membayangkan perasaan kehilangan anak yang akan segera meninggalkannya.  Puasa bukan dilakukan untuk mengukur prestasi, tetapi untuk menyatu dengan perasaan orang yang ditinggalkan mempelai pergi, ditinggalkan Yesus, Sang Mempelai, masuk pada kubur penebusan.

 

Sabtu, 12 Maret 2011 :

Yes. 58:9b-14; Luk. 5:27-32

Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia. Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”

“YAAMPUN, TUHAN MAU MAKAN DI RUMAHKU”

Coba tempatkan diri bukan sebagai orang benar, tetapi sebagai orang berdosa di mana Yesus berkenan hadir, memasuki rumah anda, lalu nyantai meluruskan kaki dan makanbersama kita. Alangkah bahagianya kita!! Kebahagiaan sejenis itu yang dicari Yesus.

2 responses to this post.

  1. Posted by christine koesmadi on March 10, 2011 at 7:41 PM

    Mo,makasih renungannya,walaupun nantinya Romo jauh dari kami,jangan lupa selalu kirim renungan buat kami ya Mo.GBU

    Reply

  2. Halo Mo, gimana caranya register ke blog ini ya?
    Saya mau teman-teman di UKI-Calgary (Umat Katolik Indonesia – Calgary) subscribe. Mereka sudah mau.
    Trims atas renungan hariannya. Tuhan memberkati.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: