Renungan Harian Prapaskah II-A

Senin, 21 Maret 2011 :

Dan. 9:9:4b-10; Luk. 6:36-38

Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi:

suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”

“NGUNDUH WOHING PAKARTI”

Itu adalah pepatah Jawa, yang artinya setiap orang akan memetik apapun yang dilakukannya terhadap orang lain. Dibalik kebijaksanaan lokal itu Yesus punya alasan jelas kenapa kita mesti bersikap murah hati, yakni karena Bapa Surgawi pertama-tama telah bermurah hati. Adakah kita menerima orang lain seperti menerima diri sendiri?

 

Selasa, 22 Maret 2011 :

Yes. 1:10,16-20; Mat. 23:1-12

Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya…… Mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara.

KAMU SEMUA ADALAH SAUDARA

Posisi keagamaan bersifat fungsional, mewakili panggilan untuk melayani. Namun sedihnya, kadang karena disalah tafsirkan untuk melihat tinggi rendahnya martabat dan kesempatan seseorang. Bahkan ada yang mengukur derajatnya dari jabatan yang ia pegang. Itu akan nampak jelas kalau marah lalu menyebut-nyebut jabatannya, “Aku ini direkturmu, aku ini gurumu, aku ini pastormu, aku ketua lingkungannya…..dsb” Akibatnya kita tidak saling bersaudara. Terhadap orang yang demikian Yesus masih lunak berkata, “dengarkan kata-katanya”, tetapi dengan tegas ia berkata, “JANGAN ikuti perbuatan-perbuatan mereka.” Kalau jabatan keagamaan itu menciptakan batas yang kaku dalam hidup anda, coba ingat sekali lagi kata Yesus itu: Kamu semua adalah saudara.

 

Rabu, 23 Maret 2011 :

Yer. 18:18-20; Mat. 20:17-28

Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.”

TUHAN JUGA PUNYA RENCANA

Tuhan bukanlah mesin vendor yang otomatis mengeluarkan botol air atau soda yang telah dibayar lewat slot koin atau lembaran uang. Tak setiap kesanggupan kita menghadapi tantangan hidup lalu berbalas persis seperti kita mau. Tuhan memiliki rencana yang kadang tak mampu kita baca sebelumnya. Apalagi kehidupan kekal, bukanlah hasil prestasi kita, tetapi adalah rencana Bapa untuk membahagiakan kita. Masihkah kita mampu berbahagia dengan berserah?

 

Kamis, 24 Maret 2011 :

Yer. 17:5-10; Luk. 16:19-31

Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.

TANPA PRIVILEGE

Di dunia ini orang senang sekali kalau memiliki privilege atau hak khusus.    Dengan menyebut Abraham sebagai pelaku cerita ini, Yesus mau mengangkat hal-hal penting. Pertama hak khusus sebagai keturunan Abraham tak selalu menjadi jaminan surgawi bila manusia tidak menuruti ajaran iman dan kasih yang dicontohkan Abraham. Kedua, Tuhan bebas untuk memberikan kebahagiaan kepada siapapun yang dengan jujur mencari Tuhan, bahkan orang-orang miskin yang disingkirkan dunia. Bongkar cara pandang sempit yang mengira Tuhan memfasilitasi kelompok istimewa, Ia tetaplah pribadi pencurah berkat bagi setiap orang sesuai kehendaknya.

 

Jumat, 25 Maret 2011 : HARI RAYA KABAR SUKACITA

Yes. 7:10-14; Ibr. 10:4-10; Luk. 1:26-38

Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.

SUKACITA MARIA

Kadang saya bertanya, apakah sebenarnya yang disebut sukacita Maria.  Kabar itu sebenarnya adalah kabar buruk, karena ia harus menghadapi tantangan keras yang melebihi ukurannya sebagai gadis desa. Sukacitanya adalah sukacita yang penuh, yang telah mengatasi ketakutan atas aneka tantangan yang dihadapi. Sukacitanya bukan sekedar luapan perasaan, melainkan ungkapan iman yang kokoh akan penyelenggaraan Tuhan atas dirinya. Seperti apa sukacita anda?

 

Sabtu, 26 Maret 2011 :

Mi 7:14-15,18-20; Luk. 15:1-3,11-32

Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.”

DATANG KEMBALI

Kata-kata di atas adalah penutup dari kisah yang penuh arti tentang kembalinya anak hilang, tentang Bapa yang kasihnya tanpa batas, tentang salah paham anak yang merasa berjasa dalam hidup karena selalu tinggal bersama Bapa dan tak memperbaharui sikap hidupnya. Berbagagialah bila di masa prapaskah ini kita kembali kepada bapa untuk menyadari kemurahannya, mengatasi godaan kita untuk merasa mapan tanpa kekurangan, dan dengan rendah hati berani mengubah hidup seperti anak bungsu dalam Injil. “Bapa aku tak pantas menjadi anak Bapa, tetapi……”

5 responses to this post.

  1. makasih Mo udah berbagi bacaan n renungan,,,
    semoga selain bisa membaca renungannya,, yandi bisa denger Romo khotbah nyee,, he he😀
    n pastinya bisa mempraktekkan apa yang sudah di ajarkan,,,
    JBU always Mo,,🙂

    Reply

  2. Posted by Aryadi Fx on March 20, 2011 at 1:12 PM

    Terima kasih ya Romo smga renungan ini menambah iman saya….dalm masa prapaskah ini serta dapt menambah kekuatan dlm menjalani kehidupan ini….slmat malam Romo..smga Romo senantiasa mendapatkan rahmat dlm menjlnkan…tugas”Nya…..

    Reply

  3. Posted by Suwanti on March 20, 2011 at 10:25 PM

    Hallo Mo… apa kabar? trima kasih Mo atas kiriman Renungan minggu ini.

    Reply

  4. Posted by isti on March 20, 2011 at 10:46 PM

    terimakasih y romo atas kiriman bacaan dan renungan singkat untuk minggu ini, sdh d kepanjen a kenjeran romo

    Reply

  5. Posted by christine koesmadi on March 23, 2011 at 11:10 PM

    Mo,apa kabar?walaupun kami mendapat musibah,tapi kami percaya Tuhan masih mencintai kami berdua dan kami selalu tabah dalam menghadapinya.AMIN.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: