Renungan Minggu Prapaskah V-A

 

Senin, 11 April 2011: Santo Stanislaus, Uskup dan martir

Dan 13:1-9, 15-17, 19-30, 33-62 or 13:41c-62/Yoh 8:1-11

Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

TIDAK MENGHUKUM

Kalau dibandingkan lebih cermat, kenyataan bahwa Yesus tidak menghukum itu tak sekedar mengejutkan perempuan itu, tetapi mestinya juga mengejutkan kita yang sama-sama sering berusaha menghukum sesama, bahkan menyangka bahwa kewibawaan Tuhan tercipta kalau dia menghukum. Yesus datang bukan menawarkan rumus “hukuman dan pahala”, tetapi  menawarkan kasih yang mengampuni dan mendorong orang untuk hidup baru. Masih adakah ganjalan di hati anda dengan kenyataan itu?

 

Selasa, 12 April 1011:

Bil 21:4-9/Yoh 8:21-30

Banyak yang harus Kukatakan dan Kuhakimi tentang kamu; akan tetapi Dia, yang mengutus Aku, adalah benar, dan apa yang Kudengar dari pada-Nya, itu yang Kukatakan kepada dunia.” Mereka tidak mengerti, bahwa Ia berbicara kepada mereka tentang Bapa. Maka kata Yesus: “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku. Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.” Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya.

DARAH NAIK

Sungguh menarik bahwa dalam situasi darurat darah kita seperti dipompa keras. Dalam keadaan genting sering nampaklah keaslian manusia. Senada dengan arus darah, Yesus mewahyukan kemuliaanya seiring dengan dengan ketegangan sengsara, wafat, dan kebangkitanNya. Perayaan sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan mestinya menjadi tantangan sejauh mana kita memenangkan ketegangan hidup menjadi moment istimewa pemurnian iman.

 

Rabu, 13 April 2011: St. Martin, Uskup dan Martir.

Dan 3:14-20, 91-92, 95/ Yoh 8:31-42

Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Jawab mereka: “Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.”

HAK ISTIMEWA

Pernahkah anda terkaget-kaget, karena anak pengurus gereja justru meninggalkan Gereja? Bukan hal baru, bibit iman memang perlu tetapi iman bukan sekedar warisan. Yesus menegur orang-orang yang mengagungkan statusnya sebagai keturunan Abraham tetapi tak jujur dalam melihat ajaran Allah. Bukan warisan yang memerdekakan, tetapi iman yang kita peroleh lewat pergulatan orisinil dengan firman Tuhan.

 

Kamis, 14 April 2011:

Kej 17:3-9/Yoh 8:51-59

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” Kata orang-orang Yahudi kepada-Nya: “Sekarang kami tahu, bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mati dan demikian juga nabi-nabi, namun Engkau berkata: Barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kita Abraham, yang telah mati! Nabi-nabipun telah mati; dengan siapakah Engkau samakan diri-Mu?” Jawab Yesus: “Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikitpun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami, padahal kamu tidak mengenal Dia, tetapi Aku mengenal Dia.

SABAR DAN TEKUN DALAM FIRMAN

Ajaran Yesus terasa begitu berat diterima orang-orang pada jamannya. Hal itu tak lepas dari pewartaan radikal tentang hubungannya dengan Bapa. Banyak hal tak mudah kita pahami juga dalam hidup saat ini. Mampukah kita bersabar dalam kesulitan dan bertekun dalam firmannya?

 

Jumat, 15 April 2011:

Yer 20:10-13/ Yoh 10:31-42

Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?”  Jawab orang-orang Yahudi itu: “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah.”

BERHADAPAN DENGAN ORANG KALAP

Bayangkan Yesus yang harus berhadapan dengan orang-orang kalap. Mereka tak lagi peduli pada kebaikan dan kebenaran pengajaran Yesus, melainkan panas hati pengertian baku yang telah ia pegang dengan kaku. Kita prihatin karena murid-murid Tuhan saat ini masih harus berhadapan dengan orang kalap serupa. Semoga kita tak ikut bebal menghadapi dengan fundamentalisme yang sama, melainkan memancarkan kebaikan dan kebenaran Yesus.

 

Sabtu, 16 April 2011

Ez 37:21-28/Yoh 11:45-56

Imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata: “Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat.  Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita.” Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa.”

MATI SATU

Kata imam besar “satu mati untuk keselamatan seluruh bangsa”  ini adalah kata biasa dalam masyarakat yang biasa menumbalkan sesama. Akan tetapi kata sederhana itu justru menjadi ramalan kebenaran bahwa Yesus memang akan menebus seluruh bangsa manusia. Terimakasih Tuhan, bahwa hutang dosa kami telah kau bayar lunas dengan darah Puteramu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: