Archive for June, 2011

Renungan Harian Pekan XIII: Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

Senin, 27 Juni 2011 : Hari biasa
Kej. 18:16-33; Mzm. 103:1-2,3-4,8-9,10-11; Mat. 8:18-22

Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.”

TERJALNYA JALAN PEMBEBASAN

Yesus berterus terang bahwa jalan pembebasan sungguh identik dengan jalan kemuridan yang sulit. Ia tak ragu mewartakannya, karena hanya dengan itu para murid bisa melihat jalan keselamatannya. Pernahkah anda mencoba mengelabuhi diri dengan melihat jalan Yesus sebagai jalan langsam? Apakah yang anda rasakan?

 
Selasa, 28 Juni 2011 : Pw S. Ireneus
Kej. 19:15-29; Mzm. 26:2-3,9-10, 11-12; Mat. 8:23-27; atau dr RUybs

Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nyapun mengikuti-Nya. Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. Dan heranlah orang-orang itu, katanya: “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?”

MENYERAH YANG TIDAK KALAH

Ada dua jenis penyerahan. Pertama penyerahan karena merasa kalah, kedua memilih penyerahan karena tahu di dalam penyerahan Tuhan akan melakukan sesuatu. Kegagalan hidup bisa membimbing pada sikap menyerah kalah, sebaliknya bisa membuat diri kita murni menyerah untuk diisi kekuatan Tuhan. Pernahkan anda mengalami keduanya? Kuasai perahu dengan menyerahkan diri pada Yesus.

 

Rabu, 29 Juni 2011 : HARI RAYA S. PETRUS dan S. PAULUS
Kis. 12:1-11; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9; 2Tim. 4:6-8,17-18; Mat. 16:13-19

Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

PENGENALAN PRIBADI

Bagaikan batu kasar yang dipahat menjadi patung berseni tinggi. Tak salah bisa Yesus menamai Simon sebagai Petrus, Si Batu Karang. Karena kasar, polos, dan vulgarnya Petrus bisa dipermak Yesus menjadi  pribadi kualitas tinggi yang mampu menangkap pribadi dan misi Yesus dengan jiwa tulus. Barangkali, kita telah mengenal Yesus dalam kebersamaan komunitas, akan tetapi semua itu hanya kan punya daya besar ketika kita mampu menjadikannya keyakinan pribadi.

Kamis, 30 Juni 2011 : Hari biasa
Kej. 22:1-19; Mzm. 115:1-2,3-4,5-6,8-9; Mat. 9:1-8
Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.” Lalu Yesus meninggalkan mereka dan pergi. Pada waktu murid-murid Yesus menyeberang danau, mereka lupa membawa roti. Yesus berkata kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki.” Maka mereka berpikir-pikir dan seorang berkata kepada yang lain: “Itu dikatakan-Nya karena kita tidak membawa roti.”  Dan ketika Yesus mengetahui apa yang mereka perbincangkan, Ia berkata: “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Hai orang-orang yang kurang percaya!

RAGI “NGEYEL”

Sikap buruk bisa menjamur, mempengaruhi, dan mengubah seperti ragi. Sikap keras hati kaum Farisi dan Saduki yang cenderung “ngeyel” menuntut tanda disebut Yesus sebagai ragi yang perlu diwaspadai. Sayang pendengar Yesus berpikir picik. Diberi tanda dahsyatpun orang demikian akan tetap keras hati. Di mana-mana kita bisa bertemu dengan orang yang bersikeras minta tanda, dan tak beriman dengan pasrah. Bagaimana anda mengantisipasi kalau masuk dalam kalangan teman yang mempengaruhi untuk tidak beriman?

 

Jumat, 1 Juli 2011 : HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS
UL 7:6-11; Mzm. 103:1-2,3-4,6-7,8,10; 1Yoh.4:7-16; Mat. 11:25-30

Pada waktu itu berkatalah Yesus: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.”

DENGARKAN DOA YESUS

Heninglah, dan rasakan setiap kata dalam doa Yesus sebagai doa dan sabda tenang anda. Rasakan betapa Yesus menemani kita di jalan sulit.

“Hati Yesus yang mahakudus, terimakasih atas kepenuhan di dalam Dikau”
Sabtu, 2 Juli 2011 : Pw Hati Tersuci SP Maria
Kej. 27:1-5,15-29; Mzm. 135:12,3-4,5-6; Mat. 9:14-17; atau dr RUybs

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.”

MENGIMBANGI DENGAN HIDUP BARU

Ada orang yang sibuk mempraktekkan larangan-larangan dalam kitab imamat, dan sudah merasa hebat karena merasa semakin mirip Yesus. Apakah tidak keliru? Kain baru mesti ditambal dengan kain baru, anggur baru ditampung dengan kantong baru, sabda Yesus. Yang dimaksudkan adalah ajaran baru hendaknya ditangkap dengan hati baru dan dihayati dengan cara hidup baru.

Advertisements

Renungan Harian Pekan XII: Tritunggal Mahakudus

Senin, 20 Juni 2011 : Hari biasa
Kej. 12:1-9; Mzm. 33:12-13,18-19,20,22; Mat. 7:1-5

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?  Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

 
Selasa, 21 Juni 2011 : Pw S. Aloisius Gonzaga
Kej. 13:2,5-18; Mzm. 15:2-3ab,3cd-4ab,5; Mat. 7:6,12-14; atau dr RUybs

“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”
“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya;

 
Rabu, 22 Juni 2011 : Hari biasa
Kej. 15:1-12,17-18; Mzm. 105:1-2,3-4,6-7,8-9; Mat. 7:15-20

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?  Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.

 
Kamis, 23 Juni 2011 : Hari biasa
Kej. 16:1-12,15-16; Mzm. 106:1-2,3-4a,4b-5; Mat. 7:21-29

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”  Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya,  sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.

 
Jumat, 24 Juni 2011 : HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS
Yes. 49:1-6; Mzm. 139:1-3,13-14ab,14c-15; Kis. 13:22-26; Luk. 1:57-66,80

Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan iapun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia.  Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya, tetapi ibunya berkata: “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya: “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu.  Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: “Namanya adalah Yohanes.” Dan merekapun heran semuanya.  Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

 
Sabtu, 25 Juni 2011 : Hari biasa
Kej. 18:1-15; Mzm. MT Luk. 1:46-47,48-49,50,53; Mat. 8:5-17

 

Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya: “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.”  Yesus berkata kepadanya: “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.  Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel.

Renungan Harian Pekan Pentakosta

Senin, 13 Juni 2011 : Pw S. Antonius dr Padua
2Kor. 6:1-10; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4; Mat. 5:38-42; atau dr RUybs

Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.  Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.

MEMBERI LEBIH
Yesus melihat hukum balas dendam “mata ganti mata….”, yang menganggap sah kalau kita membalas sepadan, tak bisa menghentikan rantai kebencian tanpa semangat kasih yang mengampuni. Pengampunan itu tak lepas dari perintah untuk bermurah hati, atau memberi lebih dari yang diminta orang lain. Bagaimana perjuangan batin anda selama ini untuk melihat perintah baru tersebut?

 
Selasa, 14 Juni 2011 : Hari biasa
2Kor. 5:1-9; Mzm. 146:2,5-6,7,8-9a; Mat. 5:43-48

Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?  Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?  Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

MENJADI SEMPURNA?

Saya merasa tak mungkin menjadi sempurna seperti Bapa, sehingga saya sering melihat ayat ini sebagai utopia, impian kosong. Akan tetapi rupanya Yesus tidak berbicara hasil, sebaliknya berbicara cara atau modus. Menjadi sempurna bukan karena suci tiada tara, tetapi karena memiliki cara mengasihi yang seperti Bapa, yakni mengasihi tanpa batas-batas relasi, tak sekedar  mengasihi yang pernah berbuat baik pada kita. Akan tetapi kasih yang seperti hujan yang bertabur bebas pada semua jenis orang, baik dan jahat. Masihkah anda merasa tak mungkin menjadi sempurna?

 

 

Rabu, 15 Juni 2011 : Hari biasa
2Kor. 9:6-11: Mzm. 112:1-2,3-4,9; Mat. 6:1-6,16-18

“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

PILIH ORISINIL ATAU TEMBAKAN?

Hidup manusia bisa menjadi seperti onderdil orisinil, yang menampilkan keasliannya dengan bahan dan pola hidup yang dihidupi sesungguhnya. Sebaliknya bisa seperti barang “tembakan”, tampil meyakinkan tetapi palsu, seolah berdoa dan beramal tetapi mencari pujian. Motivasi manusia rawan terpelintir. Karena itu Yesus mengingatkan dengan jelas agar kita menjadi diri manusia sejati, yang orisinil, tidak munafik mengejar pujian. Bagaimana tantangan-tantangan itu menggerogoti motivasi anda?

 

 

Kamis, 16 Juni 2011 : Hari biasa
2Kor. 11:1-11; Mzm. 111:1-2,3-4,7-8; Mat 6:7-15

Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.

TANPA BANYAK BUMBU

Ada kalangan yang tak terlalu suka bumbu kuat yang mengaburkan aroma asli bahan masakannya. Tuhan Yesus mengajarkan doa yang tulus tanpa banyak bumbu kata-kata. Doa yang baik ditandai dengan  Bapa sebagai sentralnya. Doa bertele-tele mudah menggoda manusia untuk memamerkan kata-kata, bukan mendengarkan Tuhan. Cobalah hening dan katakan respon anda pada Tuhan tanpa banyak kata.

 

Jumat, 17 Juni 2011 : Hari biasa
2Kor. 11:18,21b-30; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7; Mat. 6:19-23

“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.

DI MANA HATIMU?

Hati membuat pilihan yang sangat alamiah, namun iman mampu mengubah. Mana yang mengambil hati, itulah yang akan menyedot perhatian. Harta bisa menjadi pujaan hati yang menyedot seluruh perhatian. Akan tetapi terang iman bisa membuat manusia memenang kan hatinya untuk mengedepankan Allah, lebih daripada harta yang  rapuh dan bisa dimakan ngengat. Apakah hati kita sedang memilih Allah sebagai kekayaan yang abadi dan mengalirkan kebahagiaan tiada henti?

 

 

Sabtu, 18 Juni 2011 : Hari biasa
2Kor. 12:1-10; Mzm. 34:8-9,10-11,12-13; Mat. 6:24-34

Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”  “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? 

KEMAPANAN

Berbicara tentang kemapanan selalu identik dengan kecukupan harta. Sebatas cita-cita ragawi tentulah hal itu sudah cukup. Akan tetapi fakta bahwa harta tak mampu menjawab misteri hidup manusia membuat manusia tak bisa tidak, memandang Allah dan mengabdinya. Dalam perjalanan iman, kebimbangan masih saja terjadi karena tarik menarik antara jaminan harta dan jaminan Tuhan. Kedamaian sejati terjadi ketika kita mampu mendamaikan, bukan menjadikan keduanya dua kekuatan berlawanan. Tetapi ketika kita memilih satu dan memanfaatkan yang lain, memanfaatkan harta melulu untuk kemuliaan Tuhan. Anda belum menemukan rahasia ini? Jangan kuatir, renungkan kembali.

Renungan Harian Pekan Paskah VII-A

Senin, 6 Juni 2011 : Hari biasa Pekan VII Paskah
Kis. 19:1-8; Mzm. 64:2-3,4-5ac,6-7ab; Yoh. 16:29-33

Kata murid-murid-Nya: “Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan. Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah.” 

Jawab Yesus kepada mereka: “Percayakah kamu sekarang? Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku.

BERTERUS TERANG

Berterus terang adalah persoalan serius pada jaman Yohanes, karena saat itu mereka harus menhadapi kebencian dan penganiayaan. Pada masa seperti itu firman Yesus bahwa Bapa akan menyertai mereka sungguh menjadi kekuatan. Ada masa dalam hidup kita, ketika kita merasa terancam dalam beriman. Apakah kita mensyukuri titik aman untuk mewartakan cinta kasih Tuhan?

 

 
Selasa, 7 Juni 2011 : Hari biasa Pekan VII Paskah
Kis. 20:17-27; Mzm. 68:10-11,20-21; Yoh. 17:1-11a

Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata: “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau. Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.

DIPERMULIAKAN

Ketika Yesus memohon, “permuliakanlah anakmu”, itu sama sekali bukan minta jatah untuk diangkat setinggi-tingginya dalam kesejahteraan, tetapi untuk dipuncaki hidupnya. Sementara kita tahu, puncak hidup Yesus adalah saat ia mengalami sengsara, wafat, dan bangkit. Demikian pula, mengenal Allah yang benar berati mengenal Allah sebagai paket komplit, yakni Allah yang mau menderita sengsara demi kasih. Pengenalan yang benar pada Yesus bukan berhenti di kepercayaan, tetapi mengalir pada penyerahan dan kemuridan untuk ikut jalannya. Sejauh mana kita “mengenal” Yesus?

 


Rabu, 8 Juni 2011 : Hari biasa Pekan VII Paskah
Kis. 20:28-38; Mzm. 68:29-30,33-35a,35b-36c; Yoh. 17:11b-19

Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci.

KALAU NAMANYA “BAPA-ANAK”

Membaca ayat-ayat di atas saya menduga-duga siapakah nama yang dipakai Yesus untuk menyebut Allah dan dirinya? Memang nama itu bisa mengacu pada nama Allah yang telah dipakai sebelumnya, “Yang Kudus” atau “Yahwe Keberaran Kita”. Akan tetapi semua itu tentu tak lepas dari sebutan relasional Yesus dan Allah yang Ia sebut sebagai Bapanya. Di pelihara di dalam Allah berarti dipelihara dalam relasi Bapa-Anak. Sudahkan doa Yesus terkabul dan kita merasa sebagai anak-anak Allah yang setia?

 

 

Kamis, 9 Juni 2011 : Hari biasa Pekan VII Paskah
Kis. 22:30; 23:6-11; Mzm. 16:1-2a,5,7-8,9-10,11; Yoh. 17:20-26

Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.

PERSATUAN

Kita mengajarkan moral persatuan dalam setiap training kepemimpinan. Yesus memiliki kedalaman yang berbeda ketika berbicara tentang persatuan. Ia mengajarkan persatuan bukan sekedar sebagai perintah moral, tetapi sebagai identitas murid-murid Kristus. Bahkan Roh Kudus yang akan diutus Bapapun akan menyatukan mereka dari segala bahasa. Sedalam apakah kita menanam persatuan diri dengan Tuhan dan mencerminkannya pada kehidupan bersama?

 

 
Jumat, 10 Juni 2011 : Hari biasa Pekan VII Paskah
Kis. 25:13-21; Mzm. 103:1-2,11-12,19-20ab; Yoh, 21:15-19

Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.”

GEMBALAKANLAH

Yesus bercakap serius dengan Petrus karena menyangkut kelangsungan kepemimpinan yang akan diemban Petrus di dalam aneka penganiayaan. Percakapan Yesus yang dilakukan dari hati ke hati terhadap Petrus sungguh berhasil. Menggembalakan jemaat memang harus mewartakan janji indah, tetapi tak bisa dipungkiri bahwa kepemimpinan memang harus mewartakan prediksi hal buruk ke depan. Bagaimana kita menyiapkan setiap penerus untuk berjiwa besar menghadapi masa depan?

 

 

 

Sabtu, 11 Juni 2011 : Pw S. Barnabas
Kis. 11:21b; 13:1-3; Mzm.98:2-3ab,3c-4,5-6; Mat. 10:7-13

Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.

KEMURAHAN HATI

Ada yang kalau berdoa diiringi tangisan memohon kemurahan Allah,  namun begitu memarahi pembantunya bisa menjadi brutal tanpa ampun. Kita telah menerima dengan cuma-cuma dari kemurahan Allah. Itu adalah panggilan dan kesempatan untuk bermurah hati juga pada orang lain. Pergi dan wartakanlah kebaikan Tuhan.