Renungan Harian Pekan Paskah VII-A

Senin, 6 Juni 2011 : Hari biasa Pekan VII Paskah
Kis. 19:1-8; Mzm. 64:2-3,4-5ac,6-7ab; Yoh. 16:29-33

Kata murid-murid-Nya: “Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan. Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah.” 

Jawab Yesus kepada mereka: “Percayakah kamu sekarang? Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku.

BERTERUS TERANG

Berterus terang adalah persoalan serius pada jaman Yohanes, karena saat itu mereka harus menhadapi kebencian dan penganiayaan. Pada masa seperti itu firman Yesus bahwa Bapa akan menyertai mereka sungguh menjadi kekuatan. Ada masa dalam hidup kita, ketika kita merasa terancam dalam beriman. Apakah kita mensyukuri titik aman untuk mewartakan cinta kasih Tuhan?

 

 
Selasa, 7 Juni 2011 : Hari biasa Pekan VII Paskah
Kis. 20:17-27; Mzm. 68:10-11,20-21; Yoh. 17:1-11a

Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata: “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau. Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.

DIPERMULIAKAN

Ketika Yesus memohon, “permuliakanlah anakmu”, itu sama sekali bukan minta jatah untuk diangkat setinggi-tingginya dalam kesejahteraan, tetapi untuk dipuncaki hidupnya. Sementara kita tahu, puncak hidup Yesus adalah saat ia mengalami sengsara, wafat, dan bangkit. Demikian pula, mengenal Allah yang benar berati mengenal Allah sebagai paket komplit, yakni Allah yang mau menderita sengsara demi kasih. Pengenalan yang benar pada Yesus bukan berhenti di kepercayaan, tetapi mengalir pada penyerahan dan kemuridan untuk ikut jalannya. Sejauh mana kita “mengenal” Yesus?

 


Rabu, 8 Juni 2011 : Hari biasa Pekan VII Paskah
Kis. 20:28-38; Mzm. 68:29-30,33-35a,35b-36c; Yoh. 17:11b-19

Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci.

KALAU NAMANYA “BAPA-ANAK”

Membaca ayat-ayat di atas saya menduga-duga siapakah nama yang dipakai Yesus untuk menyebut Allah dan dirinya? Memang nama itu bisa mengacu pada nama Allah yang telah dipakai sebelumnya, “Yang Kudus” atau “Yahwe Keberaran Kita”. Akan tetapi semua itu tentu tak lepas dari sebutan relasional Yesus dan Allah yang Ia sebut sebagai Bapanya. Di pelihara di dalam Allah berarti dipelihara dalam relasi Bapa-Anak. Sudahkan doa Yesus terkabul dan kita merasa sebagai anak-anak Allah yang setia?

 

 

Kamis, 9 Juni 2011 : Hari biasa Pekan VII Paskah
Kis. 22:30; 23:6-11; Mzm. 16:1-2a,5,7-8,9-10,11; Yoh. 17:20-26

Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.

PERSATUAN

Kita mengajarkan moral persatuan dalam setiap training kepemimpinan. Yesus memiliki kedalaman yang berbeda ketika berbicara tentang persatuan. Ia mengajarkan persatuan bukan sekedar sebagai perintah moral, tetapi sebagai identitas murid-murid Kristus. Bahkan Roh Kudus yang akan diutus Bapapun akan menyatukan mereka dari segala bahasa. Sedalam apakah kita menanam persatuan diri dengan Tuhan dan mencerminkannya pada kehidupan bersama?

 

 
Jumat, 10 Juni 2011 : Hari biasa Pekan VII Paskah
Kis. 25:13-21; Mzm. 103:1-2,11-12,19-20ab; Yoh, 21:15-19

Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.”

GEMBALAKANLAH

Yesus bercakap serius dengan Petrus karena menyangkut kelangsungan kepemimpinan yang akan diemban Petrus di dalam aneka penganiayaan. Percakapan Yesus yang dilakukan dari hati ke hati terhadap Petrus sungguh berhasil. Menggembalakan jemaat memang harus mewartakan janji indah, tetapi tak bisa dipungkiri bahwa kepemimpinan memang harus mewartakan prediksi hal buruk ke depan. Bagaimana kita menyiapkan setiap penerus untuk berjiwa besar menghadapi masa depan?

 

 

 

Sabtu, 11 Juni 2011 : Pw S. Barnabas
Kis. 11:21b; 13:1-3; Mzm.98:2-3ab,3c-4,5-6; Mat. 10:7-13

Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.

KEMURAHAN HATI

Ada yang kalau berdoa diiringi tangisan memohon kemurahan Allah,  namun begitu memarahi pembantunya bisa menjadi brutal tanpa ampun. Kita telah menerima dengan cuma-cuma dari kemurahan Allah. Itu adalah panggilan dan kesempatan untuk bermurah hati juga pada orang lain. Pergi dan wartakanlah kebaikan Tuhan.

One response to this post.

  1. Posted by sinden & tukang tabuh on June 6, 2011 at 9:46 PM

    Makasih ya Mo renungan hariannya.Always remember us.GBU

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: