Renungan Harian Pekan Pentakosta

Senin, 13 Juni 2011 : Pw S. Antonius dr Padua
2Kor. 6:1-10; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4; Mat. 5:38-42; atau dr RUybs

Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.  Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.

MEMBERI LEBIH
Yesus melihat hukum balas dendam “mata ganti mata….”, yang menganggap sah kalau kita membalas sepadan, tak bisa menghentikan rantai kebencian tanpa semangat kasih yang mengampuni. Pengampunan itu tak lepas dari perintah untuk bermurah hati, atau memberi lebih dari yang diminta orang lain. Bagaimana perjuangan batin anda selama ini untuk melihat perintah baru tersebut?

 
Selasa, 14 Juni 2011 : Hari biasa
2Kor. 5:1-9; Mzm. 146:2,5-6,7,8-9a; Mat. 5:43-48

Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?  Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?  Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

MENJADI SEMPURNA?

Saya merasa tak mungkin menjadi sempurna seperti Bapa, sehingga saya sering melihat ayat ini sebagai utopia, impian kosong. Akan tetapi rupanya Yesus tidak berbicara hasil, sebaliknya berbicara cara atau modus. Menjadi sempurna bukan karena suci tiada tara, tetapi karena memiliki cara mengasihi yang seperti Bapa, yakni mengasihi tanpa batas-batas relasi, tak sekedar  mengasihi yang pernah berbuat baik pada kita. Akan tetapi kasih yang seperti hujan yang bertabur bebas pada semua jenis orang, baik dan jahat. Masihkah anda merasa tak mungkin menjadi sempurna?

 

 

Rabu, 15 Juni 2011 : Hari biasa
2Kor. 9:6-11: Mzm. 112:1-2,3-4,9; Mat. 6:1-6,16-18

“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

PILIH ORISINIL ATAU TEMBAKAN?

Hidup manusia bisa menjadi seperti onderdil orisinil, yang menampilkan keasliannya dengan bahan dan pola hidup yang dihidupi sesungguhnya. Sebaliknya bisa seperti barang “tembakan”, tampil meyakinkan tetapi palsu, seolah berdoa dan beramal tetapi mencari pujian. Motivasi manusia rawan terpelintir. Karena itu Yesus mengingatkan dengan jelas agar kita menjadi diri manusia sejati, yang orisinil, tidak munafik mengejar pujian. Bagaimana tantangan-tantangan itu menggerogoti motivasi anda?

 

 

Kamis, 16 Juni 2011 : Hari biasa
2Kor. 11:1-11; Mzm. 111:1-2,3-4,7-8; Mat 6:7-15

Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.

TANPA BANYAK BUMBU

Ada kalangan yang tak terlalu suka bumbu kuat yang mengaburkan aroma asli bahan masakannya. Tuhan Yesus mengajarkan doa yang tulus tanpa banyak bumbu kata-kata. Doa yang baik ditandai dengan  Bapa sebagai sentralnya. Doa bertele-tele mudah menggoda manusia untuk memamerkan kata-kata, bukan mendengarkan Tuhan. Cobalah hening dan katakan respon anda pada Tuhan tanpa banyak kata.

 

Jumat, 17 Juni 2011 : Hari biasa
2Kor. 11:18,21b-30; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7; Mat. 6:19-23

“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.

DI MANA HATIMU?

Hati membuat pilihan yang sangat alamiah, namun iman mampu mengubah. Mana yang mengambil hati, itulah yang akan menyedot perhatian. Harta bisa menjadi pujaan hati yang menyedot seluruh perhatian. Akan tetapi terang iman bisa membuat manusia memenang kan hatinya untuk mengedepankan Allah, lebih daripada harta yang  rapuh dan bisa dimakan ngengat. Apakah hati kita sedang memilih Allah sebagai kekayaan yang abadi dan mengalirkan kebahagiaan tiada henti?

 

 

Sabtu, 18 Juni 2011 : Hari biasa
2Kor. 12:1-10; Mzm. 34:8-9,10-11,12-13; Mat. 6:24-34

Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”  “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? 

KEMAPANAN

Berbicara tentang kemapanan selalu identik dengan kecukupan harta. Sebatas cita-cita ragawi tentulah hal itu sudah cukup. Akan tetapi fakta bahwa harta tak mampu menjawab misteri hidup manusia membuat manusia tak bisa tidak, memandang Allah dan mengabdinya. Dalam perjalanan iman, kebimbangan masih saja terjadi karena tarik menarik antara jaminan harta dan jaminan Tuhan. Kedamaian sejati terjadi ketika kita mampu mendamaikan, bukan menjadikan keduanya dua kekuatan berlawanan. Tetapi ketika kita memilih satu dan memanfaatkan yang lain, memanfaatkan harta melulu untuk kemuliaan Tuhan. Anda belum menemukan rahasia ini? Jangan kuatir, renungkan kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: