Renungan Harian Minggu Biasa XVIII-A

Senin, 1 Agustus 2011 : Pw S. Alfonsus Maria de Liguori
Bil. 11:4b-15; Mzm. 81:12-13,14-15,16-17; Mat. 14:13-21; atau dr RUybs

Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. 

Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

TETAP BERBELAS KASIH

Yesus menyingkir tentu bukan karena takut, tetapi tak ingin gegabah melewatkan kesempatan pewartaan sebelum saat pemuliaannya tiba. Pada kesempatan sulit itupun Yesus masih menunjukkan belas kasih dan kemurahannya yang luar biasa. Pada saat kita mengalami ketegangan hidup, adakah kita masih mampu berpikir untuk menunjukkan belas kasih terhadap orang lain?

 

 
Selasa, 2 Agustus 2011 : Hari biasa
Bil. 12:1-13; Mzm. 51:3-4,5-6a,6bc-7,12-13; Mat. 15:1-2,10-14

Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata: Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.”  “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.” Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: “Engkau tahu bahwa perkataan-Mu itu telah menjadi batu sandungan bagi orang-orang Farisi?” Jawab Yesus: “Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya.”

ORANG BIJAK TAHU INTI HUKUM DAN PROPORSIONAL

Orang yang legalistis biasanya begitu keras dalam pelaksaan hukum. Solusinya tentulah bukan menjadi permisif, mengijinkan melakukan segala sesuatu tanpa aturan. Sebagai orang Yahudi tentu Yesus tahu ajaran dan aturan bangsanya. Akan tetapi ia mengembalikan pada pikiran yang lebih dalam dan proporsi yang benar. Ketulusan manusia untuk membasuh hati dari kekotoran lebih bermakna dari pada tanda hukum mencuci tangan. Mana yang paling menyibukkan penilaian anda terhadap orang lain?

 

 
Rabu, 3 Agustus 2011 : Hari biasa
Bil. 13a-2a,25;14:1,26-29; Mzm. 106:6-7a,13-14,21-22,23; Mat. 15:21-28

Seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.”  Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak.” Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: “Tuhan, tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

MENABRAK DENGAN KERENDAHAN HATI

Wanita luar biasa, sudah tahu bahwa ia tak layak untuk menerima belas kasih, apa lagi mereka bukan kalangan yang sedang dicari Yesus. Namun perempuan itu dengan lantang berseru minta tolong, bahkan tak peduli kalau posisi dan perilakunya dianggap seperti anjing mendamba remah-remah belas kasih. Yesus yang melihat kerendahan hati yang luar biasa itu tak sekedar memenuhi permintaannya, tetapi menyanjungnya sebagai orang beriman. Apakah kita masih datang pada Tuhan dengan keangkuhan prestasi kita, atau berani merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan Allah?

 

 
Kamis, 4 Agustus 2011 : Pw S. Yohanes Maria Vianney
Bil. 20:1-13; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; Mat. 16:13-23:
atau dr RUybs

Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

WAKTU DEKAT

Yesus tahu bahwa hal-hal berat akan segera dialami. Waktu tak terlalu banyak untuk bisa menyiapkan para murid. Karena itu ia tak menyia-nyiakan waktu untuk memberi peringatan-peringatan keras kepada Petrus dan kawan-kawan memahami kesejatian hidup. Dengan teguran keras pada para murid itu kita ikut diberanikan untuk ikut melewati jalan penderitaan sebagai jalan persatuan dengan pikiran Allah. Ketika saatnya tiba, ketika penderitaan datang, biarkan kita tetap berharap.

 

 
Jumat, 5 Agustus 2011 : Hari biasa
Ul. 4:32-40; Mzm. 77:12-13,14-15,16,21; Mat. 16:24-28

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?

THE ROAD LESS TRAVELED

Yesus tentunya tahu bahwa pewartaannya yang keras akan mudah mendatangkan penolakan. Tawaran Yesus bagaikan the road less traveled (jalan yang paling kurang dilalui atau diminati) Akan tetapi Ia tetap mewartakannya, karena harga mahal salib itu akan berbuah hidup sejati yang kekal

 

 
Sabtu, 6 Agustus 2011 : Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya
Dan. 7:9-10,13-14; atau 2Ptr. 1:16-19; Mzm. 97:1-2,5-6,9; Mat. 17:1-9

Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. Kata Petrus kepada Yesus: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.”

KEMAH UNTUK BERDIAM

Para murid sudah sekian lama mengenal Yesus, mengenali juga ketegangan-ketegangan karena aneka konflik dan pewartaan seputar penderitaan Yesus. Anehnya dalam penglihatan Yesus yang berubah rupa ini para murid mengesankan ingin tinggal bersama Yesus. Itu tentu tak lepas dari kehadiran dua tokoh yang mengiringi Yesus. Namun keinginan mereka untuk tinggal bersama pastilah punya arti yang mendalam sebagai sebuah komitmen para murid yang mulai menangkap pengajaran Yesus, meski sering disampaikan dengan lugas dan keras. “Para murid Tuhan, ajari kami untuk sampai pada taraf pengenalanmu.”

One response to this post.

  1. Posted by Julie on August 5, 2011 at 11:04 PM

    Terimakasih Romo atas siraman Rohaninya. GBU

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: