Archive for November, 2011

Renungan Harian Masa Adven I – B

Minggu, 27 November 2011 : HARI MINGGU ADVEN I

Yes. 63:16b-17; 64:1,3b-8; Mzm. 80:2ac,3b,15-16,18-19; 1Kor. 1:3-9; Mrk. 13:33-37

 “Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba. Dan halnya sama seperti seorang yang bepergian, yang meninggalkan rumahnya dan menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hambanya, masing-masing dengan tugasnya, dan memerintahkan penunggu pintu supaya berjaga-jaga. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta, supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur. Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah!”

 

SELAMAT TAHUN BARU

Hari ini adalah tahun baru dalam kalender liturgi kita. Awal tahun ini ditandai pengharapan yang besar akan kehadiran Tuhan. Ada beberapa kehadiran yang dihayati di sini.

 

Ketika Tuhan Berkenan Memulihkan

Ada stasi desa yang hampir mati karena umat mudanya habis pindah ke kota. Beberapa orang tua dengan pedih mempersilahkan romo parokinya untuk menutup stasi itu. Dengan tenang pastor parokinya berkata, “Dulu Tuhan menabur benih di sini, Dia bisa menumbuhkan tunas muda lagi di sini”. Dan benar saja, beberapa keluarga muda kembali, bahkan ada orang-orang baru yang datang dan menghidupkan stasi tersebut.

Bangsa Israel telah berputus asa di pembuangan, tetapi digambarkan di dalam Kitab Yesaya ini umat yang dahulu meratap, bahkan seolah Tuhan telah menyembunyikan wajahnya pada mereka, akhirnya boleh menyaksikan Tuhan yang berkenan membela umatnya. Mereka dibebaskan dari tawanan, dan kembali memegang kokoh Tuhan yang mereka imani.

Adven adalah kesempatan kita merasakan Tuhan yang berkenan lagi kepada umatnya. Natal akan menjadi bukti semua itu. Dengan ini kita bisa menyingkirkan jauh setiap keputusasaan, karena kalau Tuhan berkenan, Ia bisa memulihkan segalanya.

Kehadiran Eskatologis: Berjaga-jagalah

Adven juga menjadi penantian eskatologis akan kedatangan Yesus yang kedua. Kedatangan ke dua ini bisa menjadi horizon keselamatan yang diharapkan menyuburkan sikap rendah hati, berjaga-jaga dan setia. Hal itu bisa terjadi bila kemudian manusia menyadari betapa kehadiran Allah bukan dikte kita, tetapi keputusan maha kuasa Tuhan. Sikap kreatif yang diharapkan dalam masa penantian ini adalah pertobatan. Hal itu akan semakin bermakna ketika kita menghayati kehadiran Yesus sebagai momen pembebasan. Menyadari kerangkeng dosa kita di masa penantian ini merupakan langkah paling berharga.

 

Senin, 28 November 2011 : Hari biasa Pekan I Adven

Yes. 2:1-5 atau Yes. 4:2-6; Mzm. 122:1-2,3-4a,4b-5,6-7,8-9; Mat. 8:5-11

Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya: “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya: “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel.

MERASA TAK PANTAS

Perwira tadi memakai keyakinan umum bahwa hanya orang salehlah yang pantas menerima kunjungan Tuhan. Sikap dan pernyataan Yesus menyanjung pikiran perwira tadi dan meyakinkan public bahwa keterbukaan sajalah yang menjadi prasarat kehadiran Yesus. Tak jarang kita diracuni perasaan berjasa dan merasa pantas menerima Tuhan, saat lain merasa tak pantas dan cukuplah Tuhan menjauh dari kita. Ternyata dua-duanya merupakan kesalahan, kita perlu terbuka mengakui kekurangan kita, sekaligus percaya bahwa Tuhan akan hadir dan melakukan sesuatu.  Adven menjadi saat pengakuan dan pemantasan diri.

 

Selasa, 29 November 2011 : Hari biasa Pekan I Adven

Yes. 11:1-10; Mzm. 72:2,7-8,12-13,17; Luk. 10:21-24

Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorangpun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.” Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat.

RUANG KOSONG YANG MENYELAMATKAN

Kerendahan hati laksana ruang kosong yang siap diisi kebesaran Tuhan. Orang-orang sederhana dianggap memiliki kesempatan lebih besar untuk memahami kerajaan surga dan memahami Allah. Bagaimana anda menggambarkan diri anda, menjadi pribadi yang penuh, atau pribadi yang memiliki rongga untuk diisi Allah?

 

Rabu, 30 November 2011 : Pesta S. Andreas

Rm. 10:9-18; Mzm. 19:2-3,4-5; Mat. 4:18-22

Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.

DIPANGGIL SESUAI PEKERJAANNYA

Tak ada profesi yang membuatnya tak layak untuk menjawab panggilan Tuhan. Simon dan Andreas para penjala ikan itu dipanggil untuk menjala manusia, Lukas yang adalah tabib dipanggil mewartakan kesabaran Tuhan dalam melayani penderita, Zakeus yang adalah pemungut cukai dipanggil untuk meberi kesaksian kemurahan hati, Maria Magdalena yang disebut pelacur itu dipanggil Tuhan memberi kesaksian penyesalan yang mendalam dan pengabdian tulus. Lihatlah profesimu, apa panggilan Tuhan yang memungkinkan untuk anda?

 

Kamis, 1 Desember 2011 : Pw S. Dionisius dan Redemptus

Yes. 26:1-6; Mzm. 118:1,8-9,19-21,25-27a; Mat. 7:21,24-27;

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.

BERDIRI DENGAN KAKI IMAN DAN PERBUATAN

Kadang penghayatan iman kita timpang, hanya berjalan dengan keyakinan iman tetapi tak berjalan dengan buah-buah iman, yakni perbuatan. Kalau demikian, kita belum layak masuk kerajaan surga. Apakah kita cukup lengkap melihat keduanya?

 

Jumat, 2 Desember 2011 : Hari biasa Pekan I Adven

Yes. 29:17-24; Mzm. 27:1,4,1314; Mat. 9:27-31

Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya.  Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” Maka meleklah mata mereka. Dan Yesuspun dengan tegas berpesan kepada mereka, kata-Nya: “Jagalah supaya jangan seorangpun mengetahui hal ini.”  Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu.

YA TUHAN, AKU PERCAYA

Seorang anak hidup amburadul karena belum percaya kalau ibu bapaknya sungguh mencintai dia. Ia pergi meninggalkan rumah. Ia baru sadar kalau ia dicintai sepenuh hati ketika percaya ibu bapaknya mengurbankan segalanya untuk menemukan dia. Kepada orang buta tadi Tuhan bertanya: Percayakah kamu, bahwa aku dapat melakukannya? Saat itu ia disembuhkan. Masa Adven sangat bagus untuk melihat kebesaran cinta Tuhan, mempercayainya, dan hidup baru karenanya.

 

Sabtu, 3 Desember 2011 : Pesta S. Fransiskus Xaverius

I Kor. 9:16-19,22-23; Mzm. 117:1,2; Mrk. 16:15-20

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.  Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,  mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.

BAPTISAN DAN BEKAL PERUTUSAN

Tak banyak orang menyadari bahwa pembatisan menambahkan kepada kita martabat ilahi yang memampukan kita menjadi utusan yang berdaya guna. Kenanglah hari pembaptisan anda dan tunjukkan imanmu dalam pelayanan.

Advertisements

Renungan Harian Minggu Biasa Ke XXXIII-A

Minggu, 13 November 2011 : Hari Minggu Biasa XXXIII
Ams. 31:10 13,19-20,30-31; Mzm. 128:1-2,3,4-5; 1Tes 5:1-6; Mat. 25:14-30 (Mat. 25:14-15,19-21)

“Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. …… 

Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

 

Lebih Besar Dari Sekedar Bakat

Umumnya kita menafsirkan talenta sebagai bakat yang harus dikembangkan. Akan tetapi apakah Yesus melulu berbicara tentang bakat? Bila demikian, mengapa manjadi begitu serius dan dihubungkan dengan Kerajaan Surga? Benar kegelisahan itu. Yesus tak sekedar berbicara tentang bakat, tetapi tentang harta titipan Allah bagi manusia. Harta itu begitu besar lebih besar dari pada barang-barang yang kita peroleh di dunia. Harta itu adalah penemuan kita akan Kristus, yang kita rengkuh sebagai pegangan. Tentu tak berlebihan bila kita mengatakan bahwa harta itu adalah iman kita. Untuk harta yang satu ini benarlah kalau dikatakan, “kepada yang memiliki akan diberi, kepada yang tak memiliki akan diambil, bahkan segala sesuatu yang ada padanya akan diambil”

 

Mengembangkan Dengan Resiko

Para pedagang tahu persis, untuk bisa maju mereka mesti menghitung resiko, tanpa harus takut karena resiko tersebut. Orang yang menerima lima dan dua memanfaatkan modal dan kemampuannya untuk mengembangkan dengan resiko kegagalan. Ternyata mereka berhasil. Contoh kesetiaan sederhana  itu telah meyakinkan sang tuan untuk mempercayakan harta modal yang lebih besar. “Engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Sungguh tragis namun cukup lumrah bahwa ada orang yang sungguh takut menghadapi resiko yang membawa perubahan. Satu orang terakhir tadi memutuskan untuk memendam saja talentanya, takut menghadapi tantangan dalam berusaha.

Adakah kita masih terbelenggu ketakutan menghadapi aneka resiko dalam mengembangkan harta iman kita? Setiap kegelisahan, kegagalan, cemooh, dan aneka korban karena beriman adalah berkah tersendiri untuk kita menjadi matang dan layak untuk kepercayaan yang lebih besar.

——————————–
Senin, 14 November 2011 : Hari biasa
1Mak. 1:10-15,41-43,54-57,62-64; Mzm. 119:53,61,134,150,155,158; Luk. 18:35-43

Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: “Apa itu?” Kata orang kepadanya: “Yesus orang Nazaret lewat.” Lalu ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku!” Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya.

MENEROBOS KATA ORANG

Setelah limabelas tahun mendampingi Pak Ardy Bu Sany barupaham mengapa suaminya yang berumur 45 dan mewarisi harta melimpah  ini tak bisa berkembang. Pak Ardy terlalu ragu setiap melangkah, terngiang cercaan ayahnya dengan kata  “bodoh” yang didengarnya waktu kecil. Orang buta dalam injil tadi memang memilikikelemahan fisik luar biasa, tetapi jiwanya penuh daya juang. Ketika orang memintanya diam, karena dianggap tak pantas berteriak-teriak terhadap Yesus, sang guru spiritual waktu itu. Tetapi Yesus justru memanggilnya karena melihat kehendak yang kuat itu. Orang ini mampu menerobos “kata orang” yang membelenggunya. Apakah belenggu mental yang kita terima dari orang lain yang harus selalu retas dalam nama Yesus?

 

Selasa, 15 November 2011 : Hari biasa
2Mak. 6:18-31; Mzm. 4:2-3,4-5,6-7; Luk. 19:1-10

Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.

PERBUATAN SEDERHANA BERDAMPAK BESAR

Zakeus memiliki masalah kompleks, postur tubuhnya pendek, pekerjaannya sebagai pemungut cukai dianggap hina oleh masyarakatnya. Yesus melakukan tindakan yang seolah sepele, singgah di rumahnya. Hal ini telah menyembuhkan luka kepercayaan diri Zakeus. Ia menjadi begitu bersukacita. Tindakan ini juga telah  menyembuhkan luka sosial yang memandang rendah orang cacat fisik dan berprofesi buruk. Nampaklah yang terpenting bagi Yesus, melihat orang bertobat dan berbahagia dalam hidup bersama. Pernahkan kita memikirkan hal sederhana yang bisa kita buat untuk melakukan perubahan besar?

Rabu, 16 November 2011 : Hari biasa
2Mak. 7:1,20-31; Mzm. 17:1,5-6,8b,15; Luk. 19:11-28

Untuk mereka yang mendengarkan Dia di situ, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka, bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan. Maka Ia berkata: “Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali. Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali. Akan tetapi orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami.

BETAPA INDAHNYA IBADAH ORANG SETIA

Yesus tetap memakai bahasa kiasan untuk menggambarkan bangsa yang senang ibadah-ibadah yang kelihatan. Ia menyanjung mereka yang setia berbuat baik meskipun tidak dilihat orang. Orang-orang setia dan low profile seperti ini sering tak diinginkan bahkan dimusuhi di masyarakat. Pada point mana kita sering tergoda untuk dilihat orang, dan pada saat apa kita berani tidak gembar-gembor tetap setia bekerja demi Yesus?
Kamis, 17 November 2011 : Pw S. Elisabet dr Hungaria
1Mak. 2:15-29; Mzm. 50:1-2,5-6,14-15; Luk. 19:41-44; atau dr RUybs

Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya: “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batupun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau.

“KASIHAN DEH LU”

Kemegahan Yerusalem membuat orang mengidentikannya dengan keabadian, akan tetapi Yesus melihat ancaman lain. Kehidupan spiritual mereka yang dangkal dan terpecah-pecah membuat mereka lemah dan dalam bahaya kehancuran. Bahkan bangunan-bangunan megah Yerusalem diramalkan akan hancur di tangan musuh. Pembangunan bangsa kita melahirkan gedung-gedung tinggi, termasuk rumah-rumah ibadat puluhan milyar rupiah. Adakah kita mengimbanginya dengan integritas iman, atau masih beragama secara dangkal dan ritual belaka? Yesus bisa menangis dan berkata “Kasihan deh lu”.

Jumat, 18 November 2011 : Hari biasa
1Mak. 4:36-37,52-59; MT 1Taw. 29:10-12d; Luk. 19:45-48

Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.

KEKUATAN YESUS

Karisma Yesus yang menyatu dengan kekaguman masyarakat luas benar-benar menjadi ancaman bagi pemegang otoritas agama jaman itu. Peringatan-peringatannya yang begitu keras memisahkan dan memurnikan orang. Yesus tahu bahwa otoritas tanpa hati akan kosong. Bila kita diserahi tanggung jawab, agaimana kita membangun kekuatan dengan kasih dan dengan ketulusan hati?

 

Sabtu, 19 November 2011 : Hari biasa
1Mak. 6:1-13; Mzm. 9:2-3,4,6,16b,19; Luk. 20:27-40

Maka datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: “Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. ……..

Jawab Yesus kepada mereka: “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan.

DUNIA LAIN

Pemikiran manusia sering terkurung batas keseharian kita. Iman membuka horizon sehingga kita mampu menggagas dan me-rasa jauh ke depan. Pikiran dunia kita menyimpulkan bahwa kehidupan abadi itu sekedar kelanjutan hidup dunia, Yesus dengan peka menunjukkan bahwa manusia akan menemukan keadaan yang serba baru. Di sana manusia memperoleh kehidupannya yang sejati yang tidak dipusingkan dengan kebutuhan-kebutuhan sesaat.

Renungan Harian Minggu Biasa XXXII-A

Minggu, 6 November 2011 : Hari Minggu Biasa XXXII
Keb. 6:13-17; Mzm.63:2,3-4,5-6,7-8; 1Tes.4:13-18 (1Tes.4:13-14); Mat. 25:1-13

Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.

 

 

 

Perkawinan Itu

Perkawinan menjadi setting favorite bagi Yesus untuk menggambarkan relasi kasih Allah dengan umatNya. Saat ini Yesus menampilkan karikatur sebuah kampung tentang sepuluh gadis yang siap dan tak siap mengikuti prosesi perkawinan. Penafsiran bisa begitu teologis-liturgis menyangkut akhir tahun liturgi yang mengumandangkan tema akhir jaman, di mana manusia mesti bersiap-siap. Penafsiran bisa begitu praktis agar hidup kita menjadi visioner melihat kebutuhan besar ke depan. Lima gadis bijaksana menjadi potret orang-orang yang mandiri mampu membaca masa depan, mampu menata hidup, dan mampu menghadapi hal-hal tak terduga.

Tuhan Kejutan

Pada hidup yang cukup panjang ini, Tuhan senantiasa memasukkan kita pada hal-hal yang tak bisa kita duga. Seolah Tuhan suka main kejutan. Lebih jelas lagi kalau berbicara tentang waktu kematian manusia. Hal ini bukan melulu persoalan bagaimana manusia siap, tetapi bagaimana manusia menerima, menghormati kemahakuasaan Allah, yang berhak menentukan kapan saatnya. Ini yang paling sering kita lupakan, sehingga kita meronta luar biasa ketika kehendak kita tak terpenuhi. Itu berarti kita lupa bahwa hidup itu anugerah, bukan hasil kemauan kita saja.

Tak Bisa Nitip

Lima gadis bodoh yang mengiba minta tolong tentulah heran mengapa teman-temannya tidak mau berbagi minyak. Tentulah ayat ini tak dimaksudkan untuk mengajarkan egoisme, melainkan untuk menunjukkan bahwa keselamatan adalah persiapan pribadi masing masing orang, tak bisa dititipkan pada orang lain. Keselamatan adalah buah pergaulan pribadi. Berapa kali kita menitipkan doa, berapa orang bersikeras tak mau bergaul dengan Tuhan seolah semua sudah terwakili oleh suami atau istrinya yang sudah aktif di gereja? Semoga lima gadis bodoh tadi juga mengunjungi kita dan mengingatkan kita.

“Sorry Gak Kenal”

Sudah umum bila kita melupakan orang-orang yang jarang ketemu dan tak ada kontak batin apapun. Seruan Sang Tuan dalam Injil tadi mengejutkan. Lima gadis ini tak dikenali, rupanya lima gadis ini tak sekedar tak siap minyak, tetapi juga tak memiliki relasi personal apapun dengan keluarga pengantin. Sesungguhnya inilah yang paling benar, orang tidak siap hampir identik dengan orang yang tidak memiliki perhatian, tidak memiliki relasi personal, tidak menyentuh batin. Layaklah kalau orang tadi tak sekedar bodoh, tetapi dianggap “tak berguna”.

——————

 
Senin, 7 November 2011 : Hari biasa
Keb. 1:1-7; Mzm. 139:1-3,4-6,7-8,9-10; Luk. 17:1-6

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini. Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.”

DOSA BERAT DAN PENGAMPUNANNYA

Batu kilangan adalah batu bertumpuk yang dipakai untuk penggilingan pada jaman Yesus. Batu itu dipilih dari jenis batu yang sangat berat. Mengapa orang yang menyesatkan harus ditenggelamkan dengan batu kilangan? Rupanya jelas, karena dosanya bertumpuk-tumpuk juga, sudah dirinya jahat masih membawa orang lain berbuat jahat pula. Namun bagaikan luka dibasuh seketika, bila kita bertobat dan membawa orang lain pada pertobatan Tuhan berkenan berlipat ganda. Apakah Anda melihat pentingnya misi pertobatan ini?

 

Selasa, , 8 November 2011 : Hari biasa
Keb. 2:23 – 3:9; Mzm.34:2-3,16-17,18-19; Luk. 17:7-10

“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

CIRI UTAMA ORANG RENDAH HATI

Kita berada di alam modern yang menegaskan bahwa kita bisa berprestasi setinggi-tingginya. Kecenderungannya, orang hanya melihat dengan satu mata, mata dunia. Akibatnya orang menjadi sombong ketika memperoleh prestasi tertentu, atau minder bahkan merana karena merasa hidupnya tak berprestasi. Tuhan mengenakan pada kita satu kaca mata lain, yaitu kacamata murid Tuhan yang mesti rendah hati. Orang rendah hati ditandai dengan pengakuan bahwa yang dikerjakannya bukanlah melulu prestasi pribadi, tetapi melakukan apa yang dikehendaki yang kuasa. Orang demikian pastilah diwarnai perjuangan dan penyerahan pada Tuhan sekaligus.

 

Rabu, 9 November 2011 : Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran
Yeh. 47:1-2.8-9,12 atau 1Kor. 3:9c-11,16-17; Mzm. 46:2-3,5-6,8-9; Yoh. 2:13-22

Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.”

PENYUCIAN TIADA HENTI

Jual beli adalah respon alami masyarakat ketika terjadi keramaian. Tak terkecuali hiruk pikuk jual beli sering terjadi di seputar aktivitas ibadah. Tanpa disadari, keramaian doa berubah menjadi keramaian pasar. Memang menyakitkan banyak pihak, tetapi Yesus tetap dengan keras memberi peringatan untuk pemurnian. Pemurnian mesti terus terjadi dalam diri kita yang sering tak sadar telah mengubah keramaian pembicaraan akan Allah menjadi keramaian jual beli. Pembicaraan seputar iman sering didominasi perhitungan untung rugi finansial. Tak perlu kuatir, semua itu perlu, tetapi jangan memburu, biarkan Tuhan yang menambahkannya.

 

Kamis, 10 November 2011 : Pw S. Leo Agung
Keb. 7:22 – 8:1; Mzm. 119:89,90,91,130,135,175; Luk. 17:20-25: 

Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.” Dan Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya.

PADA MANUSIA

Barangkali mudah melihatnya bila Kerajaan Allah ditandai dengan hal-hal yang kelihatan seperti selesainya pembangunan gedung gereja,   perayaan ulang tahun emas paroki, bencana yang memperingatkan, dan hal kelihatan lain. Yesus menunjukkan bahwa kerajaan Allah tak bertumpu pada hal-hal kelihatan, tetapi di antara “kamu”, manusia, umatnya. Seberapa kita jeli menangkap firman ini dan menempatkan manusia/umat sebagai pertimbangan pertama setiap karya.

 

Jumat, 11 November 2011 : Pw S. Martinus dr Tours
Keb. 13:1-9; Mzm. 19:23,4-5; Luk. 17:26-37; atau dr RUybs

Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya. Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali.

AKAN MENINGGALKAN

Setiap orang menghargai hidup dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang menumpuk harta sementara, ada yang memupuk ikatan kekeluargaan, ada yang merangkai persahabatan saat ini, dan sebagainya. Semua pada hari penentuan, tiada kenyataan lain selain “meninggalkan”. Semoga kita menjadi bijak karenanya.

 

Sabtu, 12 November 2011 : Pw S. Yosafat
Keb. 18:14-16, 19:6-9; Mzm. 105:23,36-37,42-43; Luk. 18:1-8; atau dr RUybs

Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kata-Nya: “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.”

KARENA CINTA, BUKAN KARENA JEMU

Yang kita dengarkan adalah ukuran paling minim dalam mengabulkan permintaan. Kalau Tuhan mengabulkan pasti bukan karena sebal dan jemu, melainkan karena cinta. Apakah anda menemukan bedanya?