Renungan Harian Minggu Biasa XXXII-A

Minggu, 6 November 2011 : Hari Minggu Biasa XXXII
Keb. 6:13-17; Mzm.63:2,3-4,5-6,7-8; 1Tes.4:13-18 (1Tes.4:13-14); Mat. 25:1-13

Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.

 

 

 

Perkawinan Itu

Perkawinan menjadi setting favorite bagi Yesus untuk menggambarkan relasi kasih Allah dengan umatNya. Saat ini Yesus menampilkan karikatur sebuah kampung tentang sepuluh gadis yang siap dan tak siap mengikuti prosesi perkawinan. Penafsiran bisa begitu teologis-liturgis menyangkut akhir tahun liturgi yang mengumandangkan tema akhir jaman, di mana manusia mesti bersiap-siap. Penafsiran bisa begitu praktis agar hidup kita menjadi visioner melihat kebutuhan besar ke depan. Lima gadis bijaksana menjadi potret orang-orang yang mandiri mampu membaca masa depan, mampu menata hidup, dan mampu menghadapi hal-hal tak terduga.

Tuhan Kejutan

Pada hidup yang cukup panjang ini, Tuhan senantiasa memasukkan kita pada hal-hal yang tak bisa kita duga. Seolah Tuhan suka main kejutan. Lebih jelas lagi kalau berbicara tentang waktu kematian manusia. Hal ini bukan melulu persoalan bagaimana manusia siap, tetapi bagaimana manusia menerima, menghormati kemahakuasaan Allah, yang berhak menentukan kapan saatnya. Ini yang paling sering kita lupakan, sehingga kita meronta luar biasa ketika kehendak kita tak terpenuhi. Itu berarti kita lupa bahwa hidup itu anugerah, bukan hasil kemauan kita saja.

Tak Bisa Nitip

Lima gadis bodoh yang mengiba minta tolong tentulah heran mengapa teman-temannya tidak mau berbagi minyak. Tentulah ayat ini tak dimaksudkan untuk mengajarkan egoisme, melainkan untuk menunjukkan bahwa keselamatan adalah persiapan pribadi masing masing orang, tak bisa dititipkan pada orang lain. Keselamatan adalah buah pergaulan pribadi. Berapa kali kita menitipkan doa, berapa orang bersikeras tak mau bergaul dengan Tuhan seolah semua sudah terwakili oleh suami atau istrinya yang sudah aktif di gereja? Semoga lima gadis bodoh tadi juga mengunjungi kita dan mengingatkan kita.

“Sorry Gak Kenal”

Sudah umum bila kita melupakan orang-orang yang jarang ketemu dan tak ada kontak batin apapun. Seruan Sang Tuan dalam Injil tadi mengejutkan. Lima gadis ini tak dikenali, rupanya lima gadis ini tak sekedar tak siap minyak, tetapi juga tak memiliki relasi personal apapun dengan keluarga pengantin. Sesungguhnya inilah yang paling benar, orang tidak siap hampir identik dengan orang yang tidak memiliki perhatian, tidak memiliki relasi personal, tidak menyentuh batin. Layaklah kalau orang tadi tak sekedar bodoh, tetapi dianggap “tak berguna”.

——————

 
Senin, 7 November 2011 : Hari biasa
Keb. 1:1-7; Mzm. 139:1-3,4-6,7-8,9-10; Luk. 17:1-6

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini. Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.”

DOSA BERAT DAN PENGAMPUNANNYA

Batu kilangan adalah batu bertumpuk yang dipakai untuk penggilingan pada jaman Yesus. Batu itu dipilih dari jenis batu yang sangat berat. Mengapa orang yang menyesatkan harus ditenggelamkan dengan batu kilangan? Rupanya jelas, karena dosanya bertumpuk-tumpuk juga, sudah dirinya jahat masih membawa orang lain berbuat jahat pula. Namun bagaikan luka dibasuh seketika, bila kita bertobat dan membawa orang lain pada pertobatan Tuhan berkenan berlipat ganda. Apakah Anda melihat pentingnya misi pertobatan ini?

 

Selasa, , 8 November 2011 : Hari biasa
Keb. 2:23 – 3:9; Mzm.34:2-3,16-17,18-19; Luk. 17:7-10

“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

CIRI UTAMA ORANG RENDAH HATI

Kita berada di alam modern yang menegaskan bahwa kita bisa berprestasi setinggi-tingginya. Kecenderungannya, orang hanya melihat dengan satu mata, mata dunia. Akibatnya orang menjadi sombong ketika memperoleh prestasi tertentu, atau minder bahkan merana karena merasa hidupnya tak berprestasi. Tuhan mengenakan pada kita satu kaca mata lain, yaitu kacamata murid Tuhan yang mesti rendah hati. Orang rendah hati ditandai dengan pengakuan bahwa yang dikerjakannya bukanlah melulu prestasi pribadi, tetapi melakukan apa yang dikehendaki yang kuasa. Orang demikian pastilah diwarnai perjuangan dan penyerahan pada Tuhan sekaligus.

 

Rabu, 9 November 2011 : Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran
Yeh. 47:1-2.8-9,12 atau 1Kor. 3:9c-11,16-17; Mzm. 46:2-3,5-6,8-9; Yoh. 2:13-22

Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.”

PENYUCIAN TIADA HENTI

Jual beli adalah respon alami masyarakat ketika terjadi keramaian. Tak terkecuali hiruk pikuk jual beli sering terjadi di seputar aktivitas ibadah. Tanpa disadari, keramaian doa berubah menjadi keramaian pasar. Memang menyakitkan banyak pihak, tetapi Yesus tetap dengan keras memberi peringatan untuk pemurnian. Pemurnian mesti terus terjadi dalam diri kita yang sering tak sadar telah mengubah keramaian pembicaraan akan Allah menjadi keramaian jual beli. Pembicaraan seputar iman sering didominasi perhitungan untung rugi finansial. Tak perlu kuatir, semua itu perlu, tetapi jangan memburu, biarkan Tuhan yang menambahkannya.

 

Kamis, 10 November 2011 : Pw S. Leo Agung
Keb. 7:22 – 8:1; Mzm. 119:89,90,91,130,135,175; Luk. 17:20-25: 

Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.” Dan Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya.

PADA MANUSIA

Barangkali mudah melihatnya bila Kerajaan Allah ditandai dengan hal-hal yang kelihatan seperti selesainya pembangunan gedung gereja,   perayaan ulang tahun emas paroki, bencana yang memperingatkan, dan hal kelihatan lain. Yesus menunjukkan bahwa kerajaan Allah tak bertumpu pada hal-hal kelihatan, tetapi di antara “kamu”, manusia, umatnya. Seberapa kita jeli menangkap firman ini dan menempatkan manusia/umat sebagai pertimbangan pertama setiap karya.

 

Jumat, 11 November 2011 : Pw S. Martinus dr Tours
Keb. 13:1-9; Mzm. 19:23,4-5; Luk. 17:26-37; atau dr RUybs

Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya. Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali.

AKAN MENINGGALKAN

Setiap orang menghargai hidup dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang menumpuk harta sementara, ada yang memupuk ikatan kekeluargaan, ada yang merangkai persahabatan saat ini, dan sebagainya. Semua pada hari penentuan, tiada kenyataan lain selain “meninggalkan”. Semoga kita menjadi bijak karenanya.

 

Sabtu, 12 November 2011 : Pw S. Yosafat
Keb. 18:14-16, 19:6-9; Mzm. 105:23,36-37,42-43; Luk. 18:1-8; atau dr RUybs

Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kata-Nya: “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.”

KARENA CINTA, BUKAN KARENA JEMU

Yang kita dengarkan adalah ukuran paling minim dalam mengabulkan permintaan. Kalau Tuhan mengabulkan pasti bukan karena sebal dan jemu, melainkan karena cinta. Apakah anda menemukan bedanya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: