Renungan Harian Minggu Biasa XXXI-B

4 November 2012 : Hari Minggu Biasa XXXI 

Ul. 6:2-6; Mzm. 18:2-3a,3bc-4,47,51ab; Ibr. 7:23-28; Mrk. 12:28b-34

Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” 

Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

Seiring dengan berakhirnya tahun liturgi, kita diajak melihat saat-saat di mana Yesus mendekati Yerusalem. Bagi orang kebanyakan Yerusalem adalah tempat ziarah, di mana orang akan sibuk dengan aneka persembahan. Bagi Yesus Yerusalem adalah tempat di mana Allah akan dimuliakan lewat sengsara, wafat dan kebangkitanNya. Begitu memasuki Yerusalem Yesus memberi arti persembahan yang sejati, yakni kasih terhadap Allah dan sesama.

Lebih Dari Persembahan

Praktek hidup agama kadang menjadi begitu melenceng, mengira bahwa persembahan adalah alat tukar kasih terhadap Tuhan dan sesama. Penyimpangan ini nampak dalam gejala sosial kita yang begitu religius, membawa banyak persembahan menjelang natal dan lebaran, menjelang ke tanah suci Mekah atau Yerusalem, tetapi menjadi begitu egois memaksakan diri terhadap Allah dan menjadi begitu eksploitatif terhadap orang lain. Kita merasakan aroma “split spirituality” begitu kuatnya.

Nubuat-nubuat kenabian dan penafsiran kembali oleh Yesus membawa kita kembali ke dalam keutuhan pemahaman tentang persembahan. Katakan saja nubuat Yesaya yang begitu keras  “Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku.” (1:13).  Benih-benih kebijaksanaan Perjanjian Lama itu dimaknai kembali oleh Yesus secara lebih mendalam. Kini Ia memasuki Yerusalem dengan membawa persembahan, bukti kasih yang sempurna, bukan lagi domba jantan, tetapi diriNya sendiri. Surat Kepada Jemaat Ibrani menunjukkan kenyataan yang sangat indah dan mendalam di mana Yesus memerankan sendiri sebagai imam pembawa persembahan itu. Pada saat yang sama Yesus menjadi meja altar yang mempertemukan manusia yang diliputi dosa dan Allah yang maha suci. Sekarang suara panggilan menghujam ke pihak kita untuk memberi persembahan bukan uang dan barang, tetapi hati yang tulus untuk terus mengasihi, berorban untuk orang lain, bahkan yang tidak meminta kasih kita.

Hukum Yang Terbesar

Di samping datang dengan pertanyaan, ahli Taurat itu datang dengan pengalaman menganalisa hukum-hukum dalam perjanjian lama. Karena itu ia tak sekedar mengajukan pertanyaan, tetapi dengan kritis mencari yang utama, hukum yang mengatasi semua hukum yang lain. Sungguh menarik, ketika Yesus menyitir Kitab Ulangan dan Imamat tentang kasih terhadap Allah dan terhadap sesama, ahli Taurat itu lalu menyambung dengan tafsiran yang begitu mendalam bahwa mengasihi Allah dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan. Yesus mengapresiasi jawaban bijaksana itu dengan mengatakan “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah.”

Setelah begitu berjarak sedemikian rupa dengan Yesus dan ahli Taurat tadi barangkali kita masih menyimpan satu pertanyaan, di antara dua hukum tadi manakah yang pertama dan utama? Jawabnya adalah sebuah kesatuan tak terpisahkan, tak ada orang yang bisa sungguh mengasihi Allah sedemikian nyata tanpa mengasihi sesama, dan tak ada orang yang bisa mengasihi sesama dengan sungguh tanpa kasih yang mendalam pada Allah.

———-

Senin, 5 November 2012 : Hari Biasa 

Flp. 2:1-4; Mzm. 131:1,2,3; Luk. 14:12-14

Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: “Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta.

TAK SEMUA ORANG BISA MEMBALAS

Semakin relasional dunia kita, semakin ditandai kebiasaan saling berbalas jasa, barang pemberian atau sumbangan. Sementara ada kalangan yang benar-benar tak bisa membalas kebaikan orang lain karena kemiskinannya. Kalangan demikian semakin tersingkir di dunia. Tuhan dari semula menunjukkan pemihakan pada mereka yang tak mampu membalas apapun. Adakah bara di hati anda untuk berbuat baik tanpa menuntut balas?

 

Selasa, 6 November 2012 : Hari Biasa 

Flp. 2:5-11; Mzm. 22:26b-27,28-30a,31-32; Luk. 14:15-24

Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang. Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh.

MASUKILAH PESTA TUHAN

Memang tidak mudah, kepentingan dunia kita sering membuat kita berdalih ketika mendengarkan panggilan Tuhan. Repotnya kita iri ketika melihat orang-orang lain hidup lebih damai dari kita. Mari menentukan langkah. Masih ada banyak ruang kosong di rumah perjamuan Tuhan. Cobalah masuk dan diam di dalamnya.

 

Rabu, 7 November 2012 : Hari Biasa 

Flp. 2:12-18; Mzm. 27:1,4,13-14; Luk. 14:25-33

Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

TAK KOMPROMI

Membenci saudara-saudarinya? Kata membenci dalam bahasa Semitis lebih berarti “tidak mau kompromi”.  Tak bisa dipungkiri ini adalah firman yang sangat mengejutkan dan menantang, tetapi sangat penting artinya untuk orang memiliki keberanian menanggung perihnya salib dalam mengikuti Yesus. Tuhan menguatkan kita.

 

Kamis, 8 November 2012 : Hari Biasa

Flp. 3:3-8a; Mzm. 105:2-3,4-5,6-7; Luk. 15:1-10

Bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?

YANG HILANG YANG MENDAMBA

Ketika kita hidup normal, kita tak merasa harus ditopang siapapun. Sebaliknya ketika kita dalam keadaan “hilang”, ketika kita kesepian, merana , kita mendamba peran orang lain dan Tuhan. Tuhan tak bermaksud mengabaikan kepentingan yang sembilan puluh sembilan, tetapi menunjukkan perhatian lebihnya pada satu yang hilang. Bila anda merasa sedang normal, lihatlah kemurahan Tuhan itu. Bila hati anda sedang merasa tersesat dan hilang, ketahuilah, Tuhan mencari anda.

 

Jumat, 9 November 2012 : Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran

Yeh. 47:1-2,8-9,12 atau 1Kor 3:9b-11,16-17; Mzm. 46:2-3,5-6,8-9; Yoh. 2:13-22

Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.”

BANGKITNYA TEKAD PENGUDUSAN

Hari ini Gereja merayakan pemberkatan Basilik Lateran, Katedral bagi Paus sebagai uskup Roma. Setelah dibangun pada abad IV basilika ini hancur oleh bencana, kebencian, dan perpecahan Gereja. Pembangunan kembalinya pada tahun 1646 menjadi kesempatan meneguhkan persatuan Gereja, yang tak mau dikotori oleh transaksi kepentingan-kepentingan pribadi. Pantaslah kalau kita mendengarkan kisah bagaimana Yesus membersihkan Bait Allah. Banyak orang sederhana jaman ini memimpikan agar gereja-gereja paroki dijauhkan dari gejala komersialisasi dan perang kepentingan. Tanpa harus mencaci siapapun, marilah kita berdoa untuk kesucian bait kudus Tuhan.

 

Sabtu, 10 November 2012 : Pw S. Leo Agung

Flp. 4:10-19; Mzm. 112:1-2,56,8a,9; Luk. 16:9-15;

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.

SETIA DALAM PERKARA KECIL

Orang sering diperhitungkan sesamanya bukan karena perbuatan-perbuatan hebatnya, tetapi karena kesetiaannya dalam menjalankan tugas-tugas kecil. Kita mendapatkan contoh yang sangat berharga. Leo  setia menjalani panggilannya sebagai Diakon. Orang memandang kesetiaannya, dan ketika Paus Sixtus III meninggal pada tahun 440 secara aklamasi orang menunjuk Leo menjadi Paus Leo Agung, yang kemudian ia emban selama 20 tahun. Jasa besarnya adalah membela teologi inkarnasi pada Konsili Kalsedon dan membela Gereja dari serangan kaum perusak (vandal) yang penuh kebencian dari Eropa Utara. Adakah kebahagiaan di hati anda untuk menjalankan tugas rutin sehari-hari?

One response to this post.

  1. terima kasih atas pencerahannya…..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: