Mengelola Tantangan-tantangan Pastoral Perkotaan

sbyPastoral di wilayah perkotaan tak terlalu menuntut alasan teologis yang berbeda dengan di wilayah lain. Akan tetapi berpastoral di perkotaan memerlukan kebijakan yang tak bisa disamaratakan begitu saja dengan berpastoral di wilayah pedesaan. Perbedaan ini menyangkut kondisi riil umat yang melahirkan respon-respon khas dalam kehidupan umat.

Menggarap tema ini saya diuntungkan bahwa saya pernah dan masih tinggal di kota Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia yang memiliki banyak karakteristik spesifik.

Untuk mempertajam bahasan ini pertama-tama bayangkan anda berdiri di puncak tertinggi kota tempat anda melayani. Kemudian bayangkan:

  • Quid Nunc Christus, jika Kristus saat ini berdiri di posisi anda dan melihat ke sekeliling, seperti apa perasaan-Nya, apa yang ada di pikiran-Nya, apa yang akan dilakukan-Nya?
  • Jika Kristus melihat kontras bangunan kondominium mewah dan gubug miskin pada sisi yang berdekatan, kontras antara pabrik-pabrik dengan cerobong asap raksasa dan upaya-upaya pehijauan kembali kota, bila melihat lalu lalangnya aneka jenis manusia perkotaan, apa yang Ia rasakan, pikirkan dan rencanakan?

Dari permenungan itu saya menemukan tantangan-tantangan ini:

  1. Memulihkan Relasi Dengan Komunikasi Primer

Satu hal yang dominan di kota besar termasuk di Surabaya adalah ancaman serius kekeringan relasi primer. Canggihnya alat dan lancarnya signal membuat banyak orang mengganti perjumpaan silaturahmi yang penuh makna dengan pesan-pesan tertulis yang cenderung pendek-pendek dan instan. Responnyapun menunjukkan kepuasan yang instan. Percakapan cepat lewat media sosial terkadang sudah membuat orang merasa sampai pada puncak relasi.  Bahkan respon “like” saja sudah ditafsirkan sebagai tanda solidaritas mendalam atas peristiwa sosial yang tragis. Padahal yang bersangkutan belum menandai solidaritasnya dengan aksi nyata.

Kalau tidak dimbangi dengan upaya-upaya nyata, hidup menggerejapun akan cenderung menjadi semu, hiper-realitas. Komunikasi didominasi apresiasi-apresiasi dangkal tanpa tindakan nyata. Tantangan kebekuan komunikasi di paroki perkotaan harus dikalahkan. Perjumpaan silaturahmi langsung diharapkan menjadi obat atas aneka kekeringan yang ditimbulkan oleh perjumpaan maya yang menyala cepat tetapi tidak mengakar dalam.

Banyak paroki perkotaan memiliki segudang penggerak muda kreatif. Di antara mereka telah mencoba mengembangkan komunikasi langsung lewat kunjungan, menelpon umatnya pada moment ulang tahun umat. Ada pula yang menggerakkan acara saling kunjung pada masa Paskah, Natal. Ada yang menjadikan moment tersebut sebagai pemberkatan rumah, di mana romo akan berkeliling diiringi umat lain untuk melakukan pemberkatan singkat atas rumah2 keluarga anggota lingkungan. Ada yang menjadikan moment ulang tahun paroki sebagai  sebagai bulan kunjungan keluarga, dan sebagainya.

Pesan Paus Fransiskus berikut memang tidak dimaksudkan untuk mengevaluasi peran media komunikasi, akan tetapi ajakannya  sungguh menggugah untuk tetap bersemangat misi dengan sukacita dalam segala keadaan “Tantangan yang ada harus diatasi ! Mari kita melakukan hal yang nyata, tapi tanpa kehilangan sukacita kita, keberanian dan komitmen penuh harapan kita. Janganlah kita membiarkan semangat misionaris kita dirampok!” (Paus Fransiscus, Evangelii Gaudium).

  1. Menahan Irama Yang Serba Cepat

Berbeda dengan masyarakat pedesaan yang mampu menunggu panen untuk bisa makan enak, orang kota cenderung tak bersentuhan dengan proses panjang. Pola ini membuahkan kecenderungan orientasi hasil dan ingin menghasilkan dengan cepat.  Kata “sabar” menjadi nasihat yang kurang terlalu laku. Lebih cepat menghasilkan lebih baik, lebih instan lebih baik lagi. Memburu hasil cepat seperti ini sering mewarnai pola-pola karya pastoral dan kehidupan iman. Alhasil, perasaan sia-sia sering menghantui penggerak umat yang memburu hasil segera.

Para pewarta Injil tantang untuk mau mendengarkan umat yang dilayani, dan tidak buru-buru memaksakan jalan pastoralnya. Pada saat yang sama mereka memiliki tanggungjawab untuk mendampingi umat dalam memahami bahwa buah iman tak selalu datang cepat. Paus Fransiskus memiliki bahasa indah untuk mengungkapkan hal ini: Para pewarta Injil memiliki “bau domba” dan dombapun mau mendengarkan suara mereka. Maka, komunitas yang mewartakan Injil siap “menemani”. Menemani seluruh prosesnya, betapapun sulit dan lamanya. (EG)

  1. Mengelola Tantangan Perkawinan dan Hidup Berkeluarga

Hampir semua orang kota mampu melihat betapa pentingnya perkawinan dan hidup berkeluarga, namun tak jarang atmosfer profan kota membuat perkawinan perkotaan sering dihadapkan pada tantangan yang unik pula. Tantangan-tantangan ini sering membuat tenaga pastoral harus memutar otak untuk menyiapkan perkawinan yang bermakna, atau bahkan sibuk mencari solusi atas masalah-masalah hidup berkeluarga.

Upacara perkawinan kadang menjadi potret dari pembentukan keluarga yang diidam-idamkan. Ada pasangan perkawinan yang memulai hidupnya dengan glamor fisik. Upacaranya meminta gaya barat, pestanya dengan gerak-gerik yang diadopsi dari benua lain, tetapi prosesnya nampak miskin pemaknaan, tanpa refleksi. Ada pula pasangan yang menyadari betapa pentingnya penghayatan batiniah,  proses-proses reflektif sarat dengan nuansa kekudusan.

Bagaimana dengan penhayatan perkawinan? Aneka tontonan profan yang tersedia tak jarang menggiring cara pandang yang mengeringkan pula. Salah satunya adalah memandang pasangan sebagai obyek fisik. Sementara  hidup perkawinan memiliki martabat luhur sakramental yang menghadirkan cinta timbal balik Allah dan Jemaat, cinta Kristus dan Gerejanya.

Kelompok pengembang Teologi Tubuh memperhatikan hal ini dengan sangat serius. Mereka telah membagikan wawasannya dalam melihat tubuh dalam konteks perkawinan, bukan sebagai obyek fisik pasangan, melainkan sebagai bahasa cinta kasih Allah, bahasa pengorbanan Kristus, bahasa kasih sayang yang mendalam antara umat sebagai tunuh Gereja dengan Kristus sebagai Sang Kepala.

Kota adalah medan yang kaya sarana, dan memanggil kita untuk terus menjadikannya kaya makna. Diperlukan tenaga pastoral yang mampu menyiram kekeringan makna, dan memberi inspirasi dan kesaksian akan kasih yang sempurna lewat hidup perkawinan atau hidup berkeluarga.

  1. Menyelaraskan Pertemanan Berbasis Persamaan Ke Komunitas Heterogin Berbasis Paroki

Banyak gejala bahwa ikatan-ikatan teritorial semakin hari semakin ditinggalkan. Banyak orang yang mendekati ketua lingkungan hanya pada saat mau membabtiskan bayinya, mau menikah atau pada saat anggota keluarganya yang meninggal. Selebihnya banyak umat mengandalkan oase-oase kategorial. Mereka tidak mau terikat secara teritorial tetapi aktif dalam kelompok-kelompok meditasi, kelompok persekutuan doa, HSM, Tritunggal Mahakudus (KTM), Pria Sejati – Wanita Bijak, SEP, KEP, Legio, Kelompk Sosial dan sebagainya. Semakin hari ikatan kategorial mereka semakin solid, dirasa menjawab kebutuhan iman, dan tak lagi menggubris kegiatan teritorial. Desakan dari pengurus lingkungan untuk bergabung di kegiatan lingkungan kadang dianggap sebagai pemaksaan kehendak.

Gejala itu bukannya tanpa alasan. Mereka mendapatkan kenyamanan dalam pencarian iman dengan cara yang serupa, dengan teman-teman sebaya dan segaya, dan sebagainya. Semua itu memang diperlukan untuk proses pengendapan. Namun tanpa kita sadari kita telah membangun gereja homogen, yang dikerdilkan oleh minimnya tantangan relasi interpersonal pada pribadi yang mengandung banyak perbedaan.

Bahkan saat ini lahir dan berkembang aneka “pusat spiritualitas” yang juga menyelenggarakan perayaan-perayaan ekaristi, meditasi dan kajian-kajian iman yang aktifitasnya mirip paroki namun dikelola selayaknya event organizer (EO). Fasilitas-fasilitas seperti itu bisa menjadi oase di luar jadwal paroki, tetapi pada saat yang sama menjauhkan umat dari pola-pola parokial yang lebih menantang.

Kreatifitas dalam membangun kelompok kategorial di tingkat paroki dan upaya mengintegrasikannya dengan basis teritorial setiap saat merupakan tanggungjawab dan tantangan setiap tenaga pastoral perkotaan. Pengurus teritorial seperti ketua lingkungan, ketua wilayah, dan pastor paroki dituntut berani berjatuh bangun dengan umat selingkungannya/sewilayah/separoki dalam membangun komunitas kecil yang menghadirkan semangat kekeluargaan dengan segala perbedaan yang melandasinya, pada saat yang sama memberi ruang bagi umatnya untuk bertumbuh lewat pelayanan-pelayanan kategorial.

  1. Membawa Pelancong “Pulang”

Gaya “kuliner” untuk membandingkan aneka rasa masakan di berbagai restoran juga terbawa persis di hidup menggereja kota. Banyak orang diam-diam mencicipi pengajaran dan peribadatan gereja lain. Banyak yang kemudian menjadi fanatik dan membela mati-matian “rasa baru”-nya. Ada yang berdalih liturgi Katolik yang membosankan, paham yang tak bisa diterima tentang Maria, orang kudus, patung, api pencuncian dan sebagainya.

Tetapi jangan lupa,  ada sekian banyak dari mereka yang benar-benar kembali dan merasa bahwa Gereja Katolik adalah rumah yang membuat mereka merasa kaya dan damai untuk pulang, merasa bahwa Gereja Katolik memiliki sumber-sumber yang tak terbandingkan dengan komunitas manapun.

Titik kritis Gereja terjadi ketika paroki dan elemen-elemennya tak mampu menawarkan “evangelisasi baru” dan sambutan hangat terhadap mereka yang pulang. Ironis tetapi kadang terjadi,  sambutan sinis, “tumben, ndengaren, njanur gunung, mimpi apa….” lebih dahulu diluncurkan bagi mereka yang pulang daripada rangkulan penuh kasih sayang.

Tenaga pastoral memiliki tantangan untuk membawa setiap hati “berpulang” ke rumah, untuk tinggal bernama orang kudus sebagai leluhur, duduk bercengkerama nyaman dengan Ibu (Maria), makan di meja ekaristi, bersantai di ruang keluarga yang dihiasi dengan ikon potret keluarga para kudus yang membantu mengingat Tuhan, membagikan berkat dalam komunitas lingkungan, dan berdoa bagi arwah yang dalam perjalanan kesempurnaan.

  1. Menggalang Solidaritas Untuk Pemberdayaan

Kita harus mengakui banyak umat perkotaan Indonesia begitu murah hati.  Baksos menjadi semacam program wajib setiap lingkungan atau wilayah, pengumpulan dana tak banyak mengalami kendala apalagi bila terjadi bencana. Banyak paroki telah memiliki karya-karya yang pantas diapresiasi tinggi karena konsistensinya dan karena nuansa solidaritas dan pemberdayaan yang cukup kental seperti poliklinik kesehatan murah, program beasiswa dan panti asuhan paroki, paguyuban subsidi kematian, dan sebagainya. Meski demikian paroki perkotaan tetap perlu mengingatkan pentingnya upaya perubahan sosial yang sistemik, yang menjamin hidup yang berkeadilan, berkesetaraan, dan penuh perdamaian.

Untuk itu di sana-sini masih harus dipikirkan pembangunan semangat solidaritas yang memiliki karakter berikut:

  1. Menggerakkan pelayanan dua sisi, yang amal-karitatif dan upaya pemberdayaan berkesinambungan. Keduanya perlu diwujudkan secara berimbang, mengingat banyak umat perkotaan masih memerlukan pertolongan darurat, namun pada sisi lain memerlukan perubahan sosial yang berkesinambungan. Gereja memang bukan lembaga sosial, bukan analis sosial, dan jelas bukan LSM, tetapi Gereja memiliki diakonia sebagai salah satu pilar kehidupannya dan memiliki panggilan untuk terus melakukan perubahan sosial lewat aneka pemberdayaan kalau mau membuat karyanya berdampak jangka panjang.
  2. Mengutamakan perjumpaan. Banyak aktifitas sosial gerejani diwakili oleh kelompok-kelompok tertentu dan tidak melibatkan semakin banyak orang. Akibatnya Gereja sering merasa berjasa tetapi hanya berhenti di pengiriman dana, tidak melakukan perjumpaan yang memotivasi orang duduk sebangku dengan orang miskin, makan semeja dengan kaum gelandangan, bermain di halaman yang sama dengan anak-anak pinggiran. Tanpa itu, kita akan menjadikan kaum miskin sekedar sebagai batu pijakan menuju surga, bukan teman setara dalam peziarahan hidup.
  3. Mendorong umat berani keluar. Umat perkotaan mapan memiliki banyak potensi untuk bergerak keluar, pada saat yang sama memiliki timbunan lemak yang melambankan gerak keluar. Keluar berarti berani meninggalkan kemapanan, proaktif “reaching out” atau menjangkau, bukan menunggu lalu ngrasani yang tidak datang. Misi di perkotaan mesti siap dengan rasa sakit karena pengorbanan, ada rasa perih karena ditolak, berani mencium bau “sampah” kepenatan kota. Sentuhan Paus Fransiscus ini keras dan tajam menohok: “Saya lebih bersimpati pada Gereja yang rapuh, terluka dan kotor karena menceburkan diri ke jalan-jalan, ketimbang sebuah Gereja yang sakit lantaran tertutup dan mapan mengurus dirinya sendiri.” (EG 49)
  4. Memilih pelayanan yang merangkul. Paroki-paroki perkotaan menjadi lembaga mandiri, yang serba berkecukupan dan mapan. Bila tak disadari, kondisi seperti ini menggiring paroki menjadi lembaga protektif dan buta, sibuk menjaga mamon, dan tak mampu melihat aneka stakeholders di seputarnya. Gereja perlu terus membuka sikap analitis dan terbukanya pada kelompok-kelompok masyarakat lain di sekitarnya, sama dengan perhatiannya pada seluruh cabang pelayanan dalam institusi parokinya. Gereja perkotaan perlu menguatkan relasi dengan RT-RW, lembaga pemerintahan, lembaga militer daerahnya, para pedagang di pasar terdekat, kaum miskin dan masyarakat sekitar pada umumnya. Hanya dengan cara itu maka Gereja akan menjadi Lumen Gentium (terang bangsa-bangsa) karena kehidupan baiknya, dan pada saat yang sama menjadi Gaudium et Spes (Sukacita dan Harapan) karena sapaan kasihnya bagi seluruh umat manusia.
  5. Mengutamakan medan strategis. Kita paham bahwa strategi bukan hanya soal perang, tetapi juga dalam soal berpastoral. Menjadi strategis berarti mampu berpikir ala jendral (strateigon), mengambil satu tindakan yang akan berdampak luas. Paroki-paroki perkotaan memiliki banyak cabang pelayanan. Ada bidang-bidang yang saling berkaitan. Efektifitas pastoral bisa tercapai bila kita mampu memanfaatkan sumber daya yang ada untuk memberi dampak sosial dan iman yang makin besar. Kompleksitas masalah perkotaan menantang kita untuk mencari bidang-bidang pelayanan yang akan memiliki dampak dalam dan luas.
  6. Membeberkan Kehadiran Allah. Berpastoral bukanlah soal aktifisme, tetapi menggembalakan umat untuk menemukan rumput hijau dan air segar kehidupan iman, sekaligus membela domba dari serangan serigala pemangsa iman yang nyata pada jaman ini. Setiap langkah solidaritas kita, bukan dilandasi kewajiban sosial sebagai warga manusia, tetapi sebagai panggilan karena Allah menghedaki demikian bahkan Kristus hadir dalam wajah kamu miskin. Perwujudan solidaritas kita bukan karena kita berbelas kasih saja, tetapi karena kita mau memancarkan Allah yang penuh belas kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: