KESAKSIAN KARYA ROH UMAT SMTB

Pada awalnya saya tercengang melihat jalan di seputar Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB) yang sudah terbuka lancar setelah kemaren pagi dihentak peristiwa traumatis ledakan bom.thumbnail

Setelah berbincang sejenak dg romo-romo dan kawan-kawan relawan lain saya memanfaatkan kesempatan untuk ikut misa. Mengagetkan juga karena Paroki SMTB sudah dengan tenang menyelenggarakan misa dari tadi pagi; meski harus bernegosiasi dg pihak keamanan, tutur seorang petugas. Lebih membuat terperangah lagi umat yang hadir misa sangat banyak, lebih dari 150 orang perkiraan saya.

Kenyataan ini turut menginspirasi saya dalam menghadapi ketegangan banyak pihak yang masih tarik ulur antara menunjukkan keberanian menghadapi terorisme dan kewajiban menjaga keamanan umatnya, mencari titik temu antara berkegiatan dan menahan diri demi keamanan

Tak jarang hati kita begitu dikuasai ketegangan akibat berita televisi, sementara mereka yang mengalami justru tragedi sudah menjalani proses rekonsiliasi.

Makin nyata bahwa Roh bekerja bukan hanya dengan hal hal spektakuler laksana mujizat yang menghebohkan, tetapi dalam keberanian untu menjalani keseharian normal dalam keraguan bahkan ketakutan sekalipun. Ya, umat SMTB seolah menjalani dengan normal liturginya, lengkap dengan kor novena, dan pakaian liturgi seperti biasa. Padahal, pasti masih menyisakan kegelisahan, kegeraman, duka, waspada dan aneka rasa lain.

Pengantar misa yang disampaikan Romo Widyawan sangatlah
mencerahkan, meneguhkan dan memanggil semangat pengampunan kristiani. Ia mengajak kita mendoakan korban, dan pada saat yang sama mendoakan pelaku yang telah megorbankan raga dan jiwanya. “Seperti apapun yg kita alami, kita tetap bersyukur memiliki kristus sang terang, yang mengarahkan kita pada terang kehidupan”, imbuhnya.

Romo Andi sebagai homilis menukikkan pengertian bahwa yang kita hidupi mestinya kultur kehidupan. Menjadi martir berarti menhargai kehidupan setinggi-tingginya.

Begitu keluar, umat bergerombol menyaksikan tukang yang sedangengecat ulang bagian depan gereja yang telah dipenuhi bercak sehari sebelumnya.

Ketika romo mengajak umat meninggalkan tempat itu umat senyum senyum, rupanya karena sadar selama ini gak pernah begitu memperhatikan tukang seperti ini. Tapi keberanian mereka berdiri berlama-lama di situ seperti membahasakan pengharapan baru bawa mereka telah perlahan dipulihkan.

Umat SMTB, trimakasih sudah memberi kesaksian dan teladan bagaimana hidup dalam roh dan kebenaran yang memerdekakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: