Archive for February, 2011

Renungan Harian Minggu Biasa VIII-A

Senin, 28 Februari 2011 : Hari biasa
Sir. 17:24-29; Mzm. 32:1-2,5,6,7; Mrk. 10:17-27

Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” Lalu kata orang itu kepada-Nya: “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

MELEPASKAN
Anugerah kebebasan, kebahagiaan, dan keselamatan hanya diperoleh ketika orang mampu bersikap bebas terhadap benda-benda harta milik. Prestasi manusia untuk mentaati hukum tak bisa menandingi kebebasan orang yang berani melepaskan. Itulah prinsip yang ditawarkan Yesus pada pemuda tadi. Apa yang anda pakai untuk mengukur pengharapan anda akan keselamatan?

 

Selasa, 1 Maret 2011 :

Sir. 35:1-12;  Mrk. 10:28-31

Berkatalah Petrus kepada Yesus:

“Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.”

TUHAN YANG PEGANG UKURAN

Kita suka mengukur pengurbanan untuk melihat kelayakan kita di hadapan Tuhan. Namun sebenarnya, bukan kita yang berhak memastikan apakah kita layak atau tidak di hadapan Tuhan. Sebaliknya Tuhanlah yang tetap memegang kuasa untuk itu. Yang Tuhan janjikan adalah bahwa pengurbanan kita ada akan Tuhan perhitungkan. Sejauh mana kita terbuka tanpa memaksakan ukuran kita pada Tuhan?

 

Rabu, 2 Maret 2011 :

Sir. 36:1,4-5a,10-17; Mrk. 10:32-45

Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: “Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!” Jawab-Nya kepada mereka: “Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?” Lalu kata mereka: “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu.” Tetapi kata Yesus kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta.

KENALI PERMINTAANMU

Kita membiarkan pikiran kita meminta aneka ragam permintaan. Tetapi biarkan kita mengenali mana yang adalah perlu kita usahakan dan mana yang adalah kuasa Bapa Surgawi untuk memberikan. Janji Yesus kepada penjahat di sebelah nyakiranya meneguhkan harapan kita , “Hari ini juga kamu akan bersama denganku di Firdaus.”

 

Kamis, 3 Maret 2011 :

Sir. 42:15-25;  Mrk. 10:46-52

Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan. Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”

KAPAN MATA KITA DIBUKA TUHAN?

Seruan Bartimeus itu sederhana, tetapi menunjukkan iman yang utuh akan kuasa Yesus yang ia yakini sebagai Anak Daud. Sebelum mata fisiknya dibuka, mata iman Bartimeus sudah terbuka lebar.  Iman itu berbalas kesembuhan, dan ia mengikutiNya. Mata kita berkali-kali dibuka Tuhan, apakah kita terus berjalan bersama Dia?

 

Jumat, 4 Maret 2011 :

Sir. 44:1,9-12; Mrk. 11:11-26

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.”

KUASANYA MENGALIR

Berapa orang telah bersaksi bahwa imannya membuatnya mampu berharap, mampu mengampuni, mampu memberi perhatian pada orang lain, dan sebagainya, kemampuan yang tak dimilikinya sebelum mengenal Kristus. Kuasa  Yesus mengalir tak terduga. Apa perubahan yang ditunjukkan setelah anda lebih mengenal Kristus?

 

Sabtu, 5 Maret 2011 :

Sir. 51:12-20; Mrk. 11:27-33

Ahli-ahli Taurat dan tua-tua, bertanya kepada-Nya: “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?” Jawab Yesus kepada mereka: “Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu. Berikanlah Aku jawabnya, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Baptisan Yohanes itu, dari sorga atau dari manusia? Berikanlah Aku jawabnya!” Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata: “Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya?

SELARASKAN

Orang yang punya niat buruk sering mengalami ketidak selarasan, kata-katanya bertentangan di dalam dirinya sendiri. Yesus tahu kelemahan orang yang ada di hadapannya, dan Ia mengajukan pertanyaan di atas. Orang tulus hidup bagai merpati.

Advertisements

Renungan Harian Minggu Biasa VII-A

Senin, 21 Februari 2011 : Hari biasa
Sir. 1:1-10; Mzm. 93:1ab,1c-2,5; Mrk. 9:14-29

Lalu mereka membawanya kepada-Nya. Waktu roh itu melihat Yesus, anak itu segera digoncang-goncangnya, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang mulutnya berbusa. Lalu Yesus bertanya kepada ayah anak itu: “Sudah berapa lama ia mengalami ini?” Jawabnya: “Sejak masa kecilnya. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!?”

JIWA BESAR

Kasihan juga melihat anak yang kerasukan itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling. Apalagi kalau persaan itu harus dialami setiap hari oleh ayah dalam Injil itu. Karena itu dengan tegas ia berkata “Aku percaya, tolonglah aku yang kurang percaya ini!” Ia percaya pada Yesus, dengan kesadaran bahwa kepercayaannya sangatlah kurang dibanding kuasa Tuhan. Coba perhatikan “attitude” atau sikap rendah hati dan berjiwa besar sang ayah itu.

 

Selasa, 22 Februari 2011 : Pesta Takhta S. Petrus

1Ptr 5:1-4; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Mat. 16:13-19

Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

MEMBENTUK DAN MEMPERCAYAKAN

Hanya seniman yang tahu benar mengukir bongkahan batu menjadi patung yang indah dan sangat mahal. Pertanyaan Yesus tentang dirinya rupanya bukan sekedar untuk mengevaluasi diriNya sendiri, tetapi untuk para murid, untuk melihat bagaimana para murid membentuk diri dalam Yesus. Mengagumkan, Petrus yang adalah batu, keras, emosional tak terduga,  bisa  dibentuk Yesus menjadi pemimpin yang layak diberi kunci kerajaan surga. Kita semua adalah bongkahan batu yang dibentuk dari hari-ke hari, sejauh mana anda menjadi pribadi indah di dalam tangan Tuhan?

 
Rabu, 23 Februari 2011 : Pw S. Polikarpus
Sir 4:11-19; Mzm. 119:165,168,171,172,174,175; Mrk. 9:38-40;

Kata Yohanes kepada Yesus: “Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” Tetapi kata Yesus: “Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku.  Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.

GITU AJA KOK REPOT

Ayat ini mendapat implikasinya yang begitu jelas ketika kita mengumbar kekerasan karena perbedaan paham. Orang kadang tidak toleran lagi pada orang lain hanya karena datang dari kelompok lain yang berpendapat lain. Yesus mendapat pertanyaan yang sama, dan ia berkata, “(gitu aja kok repot) Jangan kamu cegah dia!” Pengenalan kita membuat kita lebih bijak dan terbuka atau lebih keras terhadap sesama?

 

Kamis, 24 Februari 2011 : Hari biasa
Sir. 5:1-8; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Mrk. 9:41-50

Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam. Karena setiap orang akan digarami dengan api. Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.”

ADA ISI

Orang yang memegang prinsip hidup kadang dianggap kaku atau keras, tetapi tak sedikit yang melihat bahwa ada “isi” di dalam dirinya. Kata-kata Yesus tentang mencungkil mata tentu terdengar sangat keras, akan tetapi Ia mau mengingatkan agar kita memiliki pegangan hidup, memiliki iman, memiliki keyakinan, sehingga kita benar-benar punya garam, punya isi, punya rasa di dalam hidup.

 

Jumat, 25 Februari 2011 : Hari biasa
Sir. 6:5-17; Mzm. 119:12,16,18,27,34,35; Mrk. 10:1-12

Jawab mereka: “Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

MINTA PEMBENARAN

Hampir setiap orang yang gagal dalam berkeluarga, membiara, atau dalam karir mencoba mencari pembenaran yang bisa dipahami oleh orang lain yang terus bertanya mengapa, mengapa, mengapa… Ada yang menjadikan perilaku orang lain atau hukum sebagai kambing hitam. Tetapi Yesus mengajak melihat ke dalam, karena sering ketegaran hati kitalah yang membawa masalah. Sejauh mana kita jujur melihat kegagalan kita dan bangkit lagi dengan memperbaiki point kerusakan kita?

 

Sabtu, 26 Februari 2011 : Hari biasa
Sir. 17:1-15; Mzm. 103:13-14,15-16,17-18a; Mrk. 10:13-16

Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka.

JADI KANAK-KANAK

Kita pantas malu kalau menjadi kekanak-kanakan, tetapi tak perlu malu belajar dari kanak-kanak yang bersih tanpa prasangka, yang terbuka untuk menerima dan menyerap pengajaran, dan merespon dengan “iman anak-anak”.  Yesus memilih contoh yang termudah untuk melawan keangkuhan manusia dengan mengundang anak-anak dekat padanya.

MINGGU BIASA VI-A

Senin, 14 Februari 2011 : Pw S. Sirilus

Kej. 4:1-15,25; Mzm. 50:1,8,16bc-17,20-21; Mrk. 8:11-13

Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

KETURUNAN DARAH DAN KETURUNAN IMAN

Bangsa Yahudi intelektual merasa punya hak istimewa menjadi keturunan besar Abraham, Ishak, dan Yakub. Akan tetapi hidup mereka stagnan tak bergerak. Sebaliknya Yesus melihat orang-orang sederhana yang percaya pada Yesus lebih mampu menangkap rahasia pengajaran leluhur mereka. Di gambarkan mereka akan duduk makan bersama bapa leluhur iman mereka. Orang-orang inilah yang kelak mengalami penyembuhan yang sejati.

 

Selasa, 15 Februari 2011 : Hari biasa

Kej. 6:5-8,7:1-5,10; Mzm. 29:1 a,2,3ac-4,3b,9b-10; Mrk. 8:14-21

Setibanya di rumah Petrus, Yesus pun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangunlah dan melayani Dia. Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.”

DIBELA TUHAN

Apakah anda pernah mengalami pengalaman tak berdaya dan tiba-tiba ditolong orang, pengalaman difitnah lalu di bela orang lain? Pernahkan anda merasa begitu tak berharap karena sakit keras dan Tuhan menyembuhkan anda? Barangkali orang-orang seperti itu yang mudah menangkap rahasia firman: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.” Kenanglah setiap pengalaman dibela Tuhan dan berjalanlah terus di dalam Tuhan.

 

Rabu, 16 Februari 2011 : Hari biasa

Kej. 8:6-13,20-22; Mzm. 116:12-13,14-15,18-19; Mrk. 8:22-26

Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.” Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nya pun mengikuti-Nya. Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.

MATI RASA

Sikap Yesus terdengar sadis sekali: “biarlah yang mati mengubur orang mati.” Yesus hanyalah mengungkap kenyataan, banyak orang yang sudah mati rasa dan mengubur dirinya dengan kebekuan hidup, merasa paling benar. Sebaliknya ada orang-orang yang tetap ingin menyelami hidup Yesus, mengikutiNya, bahkan berani menabrak badai yang menghadang.

 

Kamis, 17 Februari 2011 : Hari biasa

Kej. 9:1-13; Mzm. 102:16-18,19-21,29,22-23; Mrk. 8:27-33

Dan heranlah orang-orang itu, katanya: “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” Setibanya di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorang pun yang berani melalui jalan itu. Dan mereka itu pun berteriak, katanya: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?” ………

MENEROBOS

Wael Ghonim adalah pengelola sebuah jaringan internet di Mesir sekaligus demonstran muda yang sangat dikenali mampu membakar semangat teman-temannya untuk menggulingkan Husni Mubarak beberapa hari lalu. Dalam wawancara TV ia berkata: “Semenjak aku bisa mengalahkan ketakutan, mulai saat itu saya tak takut sedikitpun untuk mati, kalau harus mati bermartabat, dari pada hidup tanpa arti.” Yesus menerobos daerah yang tak dilalui orang lain, karena ia tahu kuasa dan kehendaknya mampu mengalahkan kekuatan setan jahat sekalipun.

 

Jumat, 18 Februari 2011 : Hari biasa

Kej. 11: 1-9; Mzm. 33:10-11,12-13,14-15, Mrk. 8:34-9:1

Maka keluarlah seluruh kota mendapatkan Yesus dan setelah mereka berjumpa dengan Dia, mereka pun mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka. Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri.

TAKUT DAN TERPESONA

Sikap manusia memang beraneka ragam. Bahkan mereka yang melihat mujizat Yesuspun ada yang justru takut kalau Yesus ada di kota mereka. Akan tetapi memang seperti itulah proses beriman, kadang melewati sesuatu yang menakutkan (tremendum) bercampur kekaguman (fascinosum). Bagaimana proses iman anda?

 

Sabtu, 19 Februari 2011 : Hari biasa

Ibr. 11:1-7; Mzm. 145:2-3,4-5,10-11; Mrk. 9:2-13

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku.” Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

MENILAI ATAU MENANAM NILAI

Ada orang sibuk menilai orang lain. Biasanya orang seperti itu tak banyak berbuat apa-apa, selain membicarakan dan menghakimi. Pada sisi lain ada orang-orang berhati jernih, yang tak menilai, tetapi duduk bersama menanamkan nilai, tak menghakimi tetapi membimbing sesama untuk mengambil keputusan terbaik. Pilihan Yesus jelas, tak menilai, tetapi hadir bagi pendosa, sibuk menanam nilai belas kasih dan pengampunan. Mana yang lebih menguasai kebiasaan anda?


MINGGU BIASA V-A

Senin, 7 Februari 2011 : Hari biasa

Kej.1:1-14; Mzm. 104:1-2a,5-6,1Q12,35c;Mrk. 6:53-56

Setibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ. Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus. Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada. Ke mana pun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.

MENJAMAH JUBAH YESUS

Mereka yang menjamah jubah Yesus tak memerlukan action spektakuler untuk kesembuhannya. Demikianlah penginjil menggambarkan kepercayaan orang-orang pada kuasa Yesus. Seberapa kita damai merasakan setiap efek iman kita, tanpa mengejar Tuhan untuk melakukan hal-hal spektakuler?

 

Selasa, 8 Februari 2011 : Hari biasa

Kej. 1:20-2:4a; Mzm. 8:4-5,6-7,8-9; Mrk. 7:1-13

Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga.

MENGUKUR IMAN

Bangsa Yahudi jaman itu mengukur iman dan keselematannya dari perbuatan-perbuatan ibadah. Yesus menegur simpang siur iman mereka, dan meminta memberi perhatian utama pada sesuatu yang mendasar, yakni ketaatan pada kehendak Allah, bukan sekedar praktek ibadah.

 

Rabu, 9 Februari 2011 : Hari biasa

Kej. 2:4b-9.15-17; Mzm. 104:1-2a,27-28,29b-30; Mrk. 7:14-23

Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu. Maka jawab-Nya: “Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?” Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal. Kata-Nya lagi: “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.

CARI INTI PESAN

Kita sering ikut-ikutan berpikir sempit dengan memastikan mana yang boleh dan tak boleh, lalu menggunakannya sebagai aturan baku. Sementara hati kita tumpul untuk melihat mana yang utama dan mana yang tambahan di dalam hidup beriman. Ketika kanak-kanak kita berpikir seperti kanak-kanak, ketika kita dewasa, kita mesti berpikir sebagai orang dewasa, demikian Paulus mengingatkan.

 

Kamis, 10 Februari 2011 : Pw S. Skolastika

Kej. 2:18-25; Mzm. 128:1-2,3,4-5; Mrk. 7:24-30;

Seorang ibu, yang anaknya perempuan kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya. Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya. Lalu Yesus berkata kepadanya: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Tetapi perempuan itu menjawab: “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Maka kata Yesus kepada perempuan itu: “Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.”

URUS KAMI DULU

Di koran Indonesia saya membaca kritik, “Urus negara sendiri dulu, baru berpendapat tentang Mesir” Hal senada diucapkan, “Mengapa harus memperhatikan komunitas lain, perhatian ke dalam dulu” Kata-kata itu sederhana, tetapi kuat sekali menjadi jalan setan untuk memberangus semangat solidaritas dan misi umat manusia. Orang tak pernah berbuat apa-apa, karena merasa “belum cukup.” Apakah dalam hidup pribadi dan komunitas kita masih diberangus logika itu? Terhadap kaum yang diidentikan dengan anjing pun akhirnya Tuhan Yesus menyapa.

 

Jumat, 11 Februari 2011 : Hari biasa

Kej. 3:1-8; Mzrn. 32:1-2,5,6,7; Mrk. 7:31-37

Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: “Efata!”, artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. Mereka takjub dan tercengang dan berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.”

TERLALU BESAR UNTUK TIDAK PERCAYA

Mujizat Yesus sangatlah dahsyat. Bagi orang yang tahu betapa cacat tuli dan bisu itu berpasangan, dan terhadap cacat ganda seperti itupun Tuhan menyembuhkan. Tak ada alasan bagi orang-orang itu untuk tak memuliakan dan mengikut Tuhan. Seberapa kekuasaan Tuhan juga membuka telinga dan mulut kita untuk memuliakan dan mengikutinya?

 

Sabtu, 12 Februari 2011 : Hari biasa

Kej. 3:9-24; Mzm. 90:2,3-4, 5-6,12-13; Mrk. 8:1-10

Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.” Murid-murid-Nya menjawab: “Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?” Yesus bertanya kepada mereka: “Berapa roti ada padamu?” Jawab mereka: “Tujuh.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah.

KEMAUAN MENCARI SOLUSI

Pepatah mengatakan, “ada kemauan ada jalan.” Yesus tak pusing pada kemampuan para murid, tetapi pada kemauan mereka. Karena kemauan mereka menunjukkan simpati dan solidaritas  mereka pada orang yang memerlukan bantuan. Mulai usahakanlah sesuatu, biarkan Yesus melengkapinya.

MINGGU BIASA IV-A

Senin, 31 Januari 2011 : Pw S. Yohanes Bosco

Ibr. 11:32-40; Mzm. 31:20,21,22,23,24; Mrk. 5:1-20

Yesus mengatakan kepadanya: “Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!” Kemudian Ia bertanya kepada orang itu: “Siapa namamu?” Jawabnya: “Namaku Legion, karena kami banyak.” Ia memohon dengan sangat supaya Yesus jangan mengusir roh-roh itu keluar dari daerah itu. Adalah di sana di lereng bukit sejumlah besar babi sedang mencari makan, lalu roh-roh itu meminta kepada-Nya, katanya: “Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!” Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan memasuki babi-babi itu

MENGEMBALIKAN TATANAN

Tanda bahwa orang sehat, maras, dan matang adalah ketika orang kembali menyadari kembali tatanan hidupnya. Orang kerasukan roh jahat berarti lepas kontrol, tak mengenali lagi tatanan. Menarik bahwa ketika Yesus menhadapi orang yang kerasukan, setanpun melepaskan diri dan membiarkan orang dihargai lebih dari pada segalanya. Harkat manusia dikembalikan pada tatanan. Setan melepaskan diri dari manusia dan pergi ke makhluk lain. Adakah perjumpaan kita dengan Tuhan juga mengembalikan kita pada prioritas-prioritas hidup?

 

Selasa, 1 Februari 2011 : Hari biasa

Ibr. 12: 1-4; Mzm. 21:26b-27,28,30,31-32; Mrk. 5:21-43

Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!” Tetapi mereka menertawakan Dia. Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: “Talita kum,” yang berarti: “Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!”  Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.

MENTERTAWAKAN HARAPAN

Mudah kita temui di antara orang yang tertekan dan merasa habis asa, harapan adalah bahan tertawaan. Yesus bagaikan menyambar hati orang-orang yang mentertawakannya karena menjanjikan kehidupan. Setiap orang terperangah pada kenyataan bangkitnya anak itu. Meski demikian, ia tetap meminta orang tidak latah mengira Yesus tukang sihir hebat. Yesus bukan menyihir tetapi menunjukkan kuasa Allah yang tak bisa ditertawakan begitu saja.

 

Rabu, 2 Februari 2011 : Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah

Mal. 3:1-4 atau Ibr. 2:14-18; Mzm. 24:7,8,9,10; Luk. 2:22-40

Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa.”

PUAS DAN PASRAH

Sepanjang usianya Simeon mengasah kepekaan untuk melihat tanda-tanda datangnya mesias. I meyakini penemuannya dan merasa puas. Bahkan ia mengungkapkannya dengan: Sekarang Tuhan, biarlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera. Adakah penemuan kita akan Yesus sebagai juru selamat juga membawa ungkapan kepasrahan mendalam?

 

Kamis, 3 Februari 2011 : Hari biasa

Ibr. 12:18-19.21-24; Mzm.48:2-3a,3b-4,9,10,11; Mrk 6:7-13

Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, roti pun jangan, bekal pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan, boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju. Kata-Nya selanjutnya kepada mereka: “Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu.

SIMPLE

Kata-kata ini biasa kita dengar, simpleks berarti satu lapisan, dupleks berarti dua lapisan, tripleks, multipleks. Firman ini terasa seperti tantangan fisik untuk berani lapar, dahaga, dingin, panas. Lebih dari itu ini memfirmankan bahwa Tuhan mengutus kita untuk simple dalam mewartakan Tuhan. Berhati tunggal, sederhana, tidak ditumpuki aneka agenda tersembunyi.

 

Jumat, 4 Februari 2011 : Hari biasa

lbr. 13:1-8; Mzm. 27:1,3,5.8b-9abc; Mrk. 6:1429

Raja Herodes juga mendengar tentang Yesus, sebab nama-Nya sudah terkenal dan orang mengatakan: “Yohanes Pembaptis sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam Dia.” Yang lain mengatakan: “Dia itu Elia!” Yang lain lagi mengatakan: “Dia itu seorang nabi sama seperti nabi-nabi yang dahulu.” Waktu Herodes mendengar hal itu, ia berkata: “Bukan, dia itu Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, dan yang bangkit lagi.” Sebab memang Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai isteri.

NABI DI HATI

Hati nurani menjadi nabi di hati, sebagai bisikan batin untuk ambil keputusan sebelum bertindak, juga  sebagai hakim yang mengadili setelah bertindak. Herodes tetap dihantui bayangan tentang Yohanes, karena telah memenggal kepala Yohanes yang ia kagumi juga. Bagaimana kita menghormati suara nabi di hati kita?

 

Sabtu, 5 Februari 2011 : Pw S. Agata 

Ibr. 13:15-17,20-21; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Mrk. 6:30-34

Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.

LAHAN FIRMAN

Tuhan Yesus mencoba menghindar dari kerumunan yang datang silih berganti, akan tetapi Ia juga melihat kebutuhan mereka yang menjadi lahan subur untuk firman pengharapan bagi mereka. Seberapa jauh kita melihat kemiskinan orang lain sebagai kesempatan mewartakan harapan akan peran Tuhan?

MINGGU BIASA III-A

Senin, Hari ke-6 Pekan Doa Sedunia

24 Januari 2011 : Pw. S. Fransiskus dr Sales

Ibr. 9:15,24-28;  Mrk. 3:22-30

Dan ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata: “Ia kerasukan Beelzebul,” dan: “Dengan penghulu setan Ia mengusir setan.” Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan: “Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis? Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan. Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya. Tetapi tidak seorang pun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan. Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal.” Ia berkata demikian karena mereka katakan bahwa Ia kerasukan roh jahat.

TAK BERSEKUTU DENGAN SETAN

Pengalaman berat manusia sering memunculkan kesimpulan instant “Ini kehendak Tuhan” dan kemudian dengan mudahnya kita berlogika Tuhan melakukan pembalasan dengan aneka perbuatan buruk seperti yang dilakukan setan.  Akhirnya kita tergiring pada prasangka bahwa Tuhan juga memakai jalan setan.  Sungguh tak mudah mengenali mana dosa fatal yang disebut menghujat Roh Kudus itu. Tetapi mempersekutukan perbuatan Allah dengan perbuatan Setan, barangkali inilah kesesatan yang bisa menggiring kita pada kesalahan fatal menghujat Roh Kudus itu. Kita memerlukan discernment serius untuk dengan jernih tetap melihat Tuhan yang adalah Kasih melakukan segala sesuatu untuk keselamatan manusia tanpa bersekutu dengan setan.

 

Selasa, Hari ke-7 Pekan Doa Sedunia

25 Januari 2011 :Pesta Bertobatnya S. Paulus

Kis. 22:3-16 atau Kis. 9:1-22; Mrk. 16:15-18

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”

KUASA BAPTISAN

Kadang kita bertemu orang yang begitu kelewat percaya diri, sebaliknya ada orang lain yang merasa tak berarti, bahkan tak mengenali kuasa yang diterimanya dari Allah. Kuasa apa yang anda sadari sebagai orang yang telah dibaptis? Memang tak mudah, tetapi mari mencoba merngarahkan ayat-ayat di atas pada diri kita sendiri.

 

Rabu, Penutupan Pekan Doa Sedunia

26 Januari 2011 : Pw S. Timotius dan Titus

2Tim. 1:1-8 atau Tit. 1:1-5  Luk. 10:1-9

Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.  Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini.

DAMAI SEJAHTERA BAGI YANG KUKUNJUNGI

Tuhan melihat banyak kemungkinan: tuaian begitu banyak, pekerja sedikit, dan tantangan selalu menghadang utusan-utusanNya. Semua itu menjadi begitu jelas ketika kita melihat penganiayaan yang terjadi terhadap murid-murid Kristus di tanah air ataupun di tempat-tempat lain seperti di Irak, Mesir, Pakistan dan tempat-tempat lain. Namun evaluasi untuk melihat semua itu sangatlah jelas, apakah kita selu membawa damai sejahtera atas rumah-rumah yang kita kunjungi? Itu adalah visi, tantangan, sekaligus teguran bagi kita untuk terus melakukan introspeksi sejauh mana iman kita membawa damai sejahtera bagi dunia sekitar.

 

Kamis, 27 Januari 2011 : Hari biasa

Ibr. 10:19-25;  Mrk. 4:21-25

Lalu Yesus berkata kepada mereka: “Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap. Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” Lalu Ia berkata lagi: “Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu.  Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.”

SI PEMBAWA TERANG AKAN BEHATI TERANG

Kabar gembira Tuhan coba diberangus oleh penguasa, namun inilah kebenarannya: terang yang dipancarkan Yesus telanjur memancar dengan sangat terang pada orang-orang yang menerima kehadirannya. Setiap penerima terang akan memancarkan (membawa) terang.

 

 

Jumat, 28 Januari 2011 : Pw S. Tomas Aquino

Ibr. 10:32-39;  Mrk. 4:26-34; atau dr RUybs

Lalu kata Yesus: “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.” ……. Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri.

JALAN TERUS

“Guru, saya dahulu mendapat mujizat, tetapi sekarang ini saya tak pernah merasakan lagi”, tanya seorang pemuda pada Sang Guru. “Lalu apa yang anda rasakan?”, Sang Guru balik bertanya. “Saya merasa tenang”. Bukankah kamu sudah terbentuk menjadi pribadi yang tenang, rupanya itu yang dkehendaki Tuhan. Mujizat sering menjadi kejutan yang sangat membahagiakan dan meneguhkan iman, tetapi iman tetaplah sebuah perjalanan panjang untuk membentuk diri. Apakah anda masih dihantui keinginan untuk berubah tiba-tiba?

 

Sabtu, 29 Januari 2011 :Hari biasa

lbr. 11:1-2,8-19;  Mrk. 4:35-41

Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: “Marilah kita bertolak ke seberang.” Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.  Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?”

TUHAN TIDAK TIDUR

Godaan yang paling sering menimpa pada saat perahu hidup kita oleng adalah menyangka Tuhan tidur dan tak peduli kalau kita binasa. Pergulatan eksistensial yang muncul dari pengalaman nyata ini sangat wajar, tetapi tak boleh berkepanjangan. Tuhan tak tidur, kita yang perlu lebih mengimani kuasanya. Jangan biarkan iman kita diambil setan dengan logika salah, tetapi lihatlah kuasa Tuhan dalam kesulitan-kesulitan kita.


 

MINGGU BIASA II-A

Senin, 17 Januari 2011 : Pw S. Antonius

Ibr. 5:1-10; Mzm. 110:1,2,3,4; Mrk. 2:18-22

Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus: “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya.

IKUT PUASA YESUS

Penafsiran kaku menggiring orang jatuh pada ritualisme, puasa pun ditaati sekedar sebagai ritual yang wajib dilakukan. Yesus sama sekali tak menggusur ritual puasa, tetapi memberi arti baru sebagai sebuah ambil bagian pada peringatan akan sengsara Tuhan. Hanya orang-orang yang berkain baru (berpemikiran baru) mampu ditambal dengan kain baru (menerima ajaran baru Yesus)

 

Selasa, 18 Januari 2011 : Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani

Ibr. 6:10-20; Mzm. 111: 1-2,4-5,9,1Oc; Mrk. 2:23-28

Orang-orang Farisi kepada Yesus: “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Jawab-Nya kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu — yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam — dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.”

MARTABAT MANUSIA LEBIH DARI ATURAN

Kita sedih mendengar banyak orang dijerat undang-undang yang kabur bin aneh, yang menjerat orang-orang dengan tuduhan “perbuatan tidak menyenangkan”. Orang miskinpun dihimpit dengan tuduhan tidak menyenangkan karena menggugat haknya. Yesus sudah membaca sinyal buruk praktek aneh itu, dan memperingatkan agar aturan dibuat dan ditaati dengan tujuan agar hidup dan martabat manusia dimuliakan. Ketika kita menyuruh orang mentaati sesuatu, coba tanyakan apakah itu akan memuliakan martabatnya.

 

Rabu, 19 Januari 2011 : Hari ke-2 Pekan Doa Sedunia

lbr. 7:1-3,15-17; Mzm. 110: 1,2,3,4; Mrk. 3:1-6

Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: “Mari, berdirilah di tengah!” Kemudian kata-Nya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?”

BERDIRILAH DI TENGAH

Perintah Yesus pada orang yang lumpuh sebelah tanggannya untuk berdiri di tengah pastilah sebuah perintah demonstratif untuk menunjukkan ketegasan sikap Yesus, shock therapy untuk memelekkan mata orang-orang yang telah dibutakan adat kaku , untuk melihat karya kemuliaan Tuhan dalam pemulihan orang-orang yang miskin, sakit dan menderita. Apa kebutaan pribadi anda yang perlu Tuhan sentak sadarkan? Bayangkan anda di sana ketika Yesus berkata, “berdirilah di tengah.”

 

Kamis, 20 Januari 2011 : Hari ke-3 Pekan Doa Sedunia

Ibr. 7:25-8.6; Mzm. 40:7-8a,8b-9,10,17; Mrk. 3:7-12

Kemudian Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya. Juga dari Yudea, dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon datang banyak orang kepada-Nya, sesudah mereka mendengar segala yang dilakukan-Nya. Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya. Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menjamah-Nya. Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak: “Engkaulah Anak Allah.”

KESAKSIAN KESEMBUHAN

Mayoritas kesaksian tentang mujizat berbicara tentang kesembuhan. Tak mengherankan, sakit memang sering menyadarkan titik lemah manusia dan mengingatkan harapan yang kuat akan pertolongan Yang Kuasa. Kuasa Yesus begitu memancar, sampai orang-orang yang kerasukan roh-roh jahatpun dikatakan tersungkur dan berteriak menyebut Yesus sebagai Anak Allah. Seberapa titik-titik lemah kita mendorong kita mengakui kuasa Yesus?

 

Jumat, 21 Januari 2011 : Pw S. Agnes, Hari ke-4 Pekan Doa Sedunia

lbr.8:6-13; Mzm.85:8,10-11,13-14; Mrk. 3:13-14;

Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil.

MEMANGGIL DAN MENGUTUS

Dengan begitus singkatnya Markus mengatakan hal-hal besar yang dilakukan Yesus: menyepi, memanggil para murid, menetapkan, dan mengutus mereka untuk mewartakan kabar baik. Setiap kali anda merasakan kedekatan tertentu dengan Tuhan, panggilan dan perutusan macam apa yang anda sadari?

 

Sabtu, 22 Januari 2011: Hari ke-5 Pekan Doa Sedunia

Ibr. 9:2-3,11-14; Mzm. 47:2-3,b-7,8-9; Mrk. 3:20-21

Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makan pun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.

APA ARTI WARAS

Ketika sebuah perilaku diikuti masyarakat umum, isalah benar akan dianggap normal. Ketika kita menabrak “main stream” atau arus kuat kebiasaan masyarakat, itu dianggap aneh. Itu yang terjadi dengan Yesus. Ia dikatakan tidak waras, tidak normal, tidak lumrah, karena ia mengajarkan hidup yang sangat berbeda dari orang pada umumnya. Apakah jalan Tuhan yang extraordinary ini menggelisahkan anda juga?